1 Abad HW 2018, Ramanda Uun: “Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Merupakan Wahana Strategis Pembibitan Kader Ideologis Praktis untuk Melanjutkan Perjuangan Muhammadiyah”

Allah menciptakan manusia tidak main-main (Q.S. 23:115), tetapi dengan perencanaan dan program yang sangat teliti dan cermat. Manusia diberi kedudukan tinggi yakni sebagai khalifah di muka bumi (Q.S.2: 30) dan diberi tugas untuk memakmurkan bumi (Q.S.11:61). Supaya hidup bermakna maka kita harus menyiapkan diri sebagai kader khalifah di muka bumi ini, yakni sebagai hamba Allah yang shalih (Q.S.21:105). Sebagai hamba Allah kita wajib taat dan patuh akan perintah Allah (سمعنا واطعنا)  Q.S. 24:51 dan tidak boleh (سمعنا وعشينا)  Q.S,2: 93.

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan adalah salah satu wadah (wahana) perkaderan yang efektif  (SK PPM No. 92 Tahun 1999) yang diperlukan utnuk menjaga kedaulatan Muhammadiyah supaya tidak disusupi oleh ideologi yang  akan mengaburkan  dan merusak keyakinan dan cita-cita hidupnya, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud msyarakay Islam yang sebenar-benarnya. Bila kader Muhammadiyah lengah, (tidak samina wa athana) terhadap keputusan persyarkatan dan keputusan pimpinan, maka akan masuk kader yang berideologi lain, sehingga hilanglenyaplah ideologi/kedaulatan Muhammadiyah. Allah mengingatkan akan nasib generasi yang akan datang, bila tidak dibina dengan baik (Q.S. 4:9)

Hizbul Wathan dalam Lintasan Sejarah

  1. Kelahiran

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan didirikan oleh K.H, Ahmad Dahlan pada tanggal 6 Rabi’l Awwal 1336 H/18 Desember 1918 di Yogyakarta. Hizbul Wathan artinya pembela tanah air. Oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah (Haedar Nashir) pada Muktamar HW ke-3 di Solo disebut sebagai Pasukan Bela Negara.

  1. H.Ahmad Dahlan dan Hizbul Wathan

K.H.Ahmad Dahlan adalah seorang ulama, muballigh, dan sekaligus pendidik. Beliau selalu memiliki orientasi pemikiran yang jauh ke depan. Beliau memiliki perhatian yang besar terhadap generasi muda dan masa depan masyarakatnya. Beliau selalu berfikir dan bertindak secara strategiis.

  1. Hizbul Wathan sebagai Wahana Pendidikan

Hizbul Wathan dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi wadah pendidikan bagi generasi muda Muhammadiyah yang berhasil sekaligus menjadi sarana dakwah yang ampuh. Banyak anak-anak muda yang yag tertarik memasuki Kepanduan HW. Meraka merasakan banyak mendapatkan manfaat   menjadi pandu HW. Tidak sedikit pemuda-pemuda anggota pandu HW menjadi orang yang percaya diri dan memiliki kepribadian  yang baik (beriman, bertaqwa kepada Allah SWT, dan berakhlak mulia, serta menjadi anggota masyarakat yang berguna). Tidak sedikit pula dari rahim Kepanduan HW  ini lahir orang-orang yang kemudian tidak hanya menjadi tokoh Muhammadiyah, tetapi juga banyak yang menjadi tokoh nasional, dan tidak sedikit yang menadi tokoh Tentara Nasional Indonesia (TNI).

  1. Hizbul Wathan dalam Gerakan Dakwah Muhammadiyah

Pertumbuhan Muhammadiyah pada masa awal tidak dapat dilepaskan dari peranan HW yang selalu menjadi pelopor dalam perintisan berdirinya cabang dan ranting Muhammadiyah. Dari HW lahir pemimpin dan da’i yang ulet, percaya diri, disiplin, dan bertanggung jawab. Hampir di setiap Kongres/Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiah, HW selalu siap membantu menyelenggarakan, menjaga keamanan, menyemarakkan dengan barisan tambur dan terompetnya. Demikian pula di setiap hari besar Islam dan hari besar nasional HW selalu tampil sebagai barisan “elite” yang dengan gagah dan tegap berada di tengah-tengah barisan-barisan organisasi kemasyrakatan yang lain. HW juga sering tampil dalam pawai, kampern, dan  jambore. Dalam sertiap kegiatan itu acaranya selalu menarik dan menjadi perhatian masyarakat. Lebih dari itu penampilan HW yang ramah, simpatik, suka menolong dan selalu berbuat kebaikan banyak menarik simpati masyarakat. Pada gilirannya banyak warga masyarakat, khususnya generasi muda yang tertarik menjadi anggota HW. Tidak sedikit dari golongan yang dulu tidak senang dengan Muhammadiyah, tetapi tertarik kepada HW-nya, bahkan dari kalangan abangan pun tidak sedikit yang memasukkan anak-anaknya ke dalam kepanduan HW.

Hizbul Wathan dalam Kemiliteran

Dalam buku Sudirman Prajurit TNI Teladan dinyatakan, “ Organisasi HW bagi Sudirman digunakan untuk melatih fisik dan membina mental dalam persiapan untuk hidup di kemudian hari. Baginya memasuki HW bukan untuk gagah-gagahan dan aksi-aksian, Ia bertekad agar organisasi tersebut benar-benar dapat melatihnya sebagai tunas muda yang sedang berkembang. Karena itu di kalangan HW Sudirman dikenal sebagai seorang pandu yang sangat patuh dan disiplin terhadap peraturan yang telah ditentukan” Dinas Sejarah TNI AD 1978, hal.141

Masa Tiarap dan Bangkit

Perjalanan HW pernah terganggu (terpaksa tiarap).  Yaitu pada masa penjajahan Jepang, kemudian bangkit pada masa kemerdekaan, terganggu lagi pada masa orde lama dan orde baru. Pada masa reformasi HW bangkit lagi.

Kebangkitan Kembali Kepanduan Hizbul Wathan

Yang mendorong PP Muhammadiyah membangkitkan kembali HW di antaranya:

  1. Kepanduan HW merupakan salah satu wadah perkaderan yang efektif.
  2. Selama lk 39 tahun proses perkaderan yang berkesinambungan terhenti.
  3. Arus reformasi di segala aspek kehidupan telah mendorong semangat untuk bangkit, karena sistem sentralisasi dan pola serba terpimpin untuk masyarakat yang majemuk sudah tidak sesuai lagi.
  4. Kebangkitan HW memperkaya khazanah kepanduan untuk bersama-sama dengan kepanduan lainnya membina generasi muda.

Organisasi Gerakan Kepanduan HW

Pengorganisasian dalam Gerakan Kepanduan HW disebut Kwartir dan Qabilah, yang penjenjangannya mengikuti susunan yang berlaku di Muhammadiyah.

  1. Tingkat Nasional Kwartir Pusat
  2. Tingkat Wilayah (Propinsi) Kwartir Wilayah
  3. Tingkat Daerah (Kabupaten/Kota) Kwartir Daerah
  4. Tingkat Cabang (Kecamatan) Kwartir Cabang
  5. Tingkat Ranting (Sekolah, Kawasan /Kampung) Qabilah

Dalam Qabilah tersebut terdapat satuan peserta/anak didik, yaitu Athfal, Pngenal, Penghela, dan Penuntun

Kekhasan HW sebagai Ortom

Gerakan Kepanduan HW sebagai Ortom termuda disahkan tahun 1999, namun usianya tertua (kedua) tahun 1918. Beberapa kekhasan dalam keanggotaannya dibandingkan dengan ortom lainnya di antaranya:

  1. Lintas gender (laki-laki dan perempuan)
  2. Lintas generasi anak, remaja, pemuda, dewasa, dan lansia)
  3. Lintas profesi (pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pegawai, pengusaha, ulama, dan lain-lain

Kekhasan tersebut dipandang strategis dalam menanggulangi kesenjangan antar generasi sehingga upaya kaderisasi dapat berkesinambungan.

Kekhasan dalam Pendidikan HW

Kekhasan dalam pendidikan HW iakah adanya Prinsip Dasar dan Metode Pendidikan yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kepentingan perserta didik, situasi dan kondisi masyarakat, serta kepentingan Muhammadiyah.

Prinsip Dasar HW adalah:

  1. Pangamalan aqidah tauhid
  2. Pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam
  3. Pengamalan kode kehormatan pandu

Metode Kepanduan HW adalah:

  1. Pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu
  2. Kegiatan dilakukan di alam terbuka
  3. Metode yang menarik, menyenangkan, dan menantang
  4. Kenaikan tingkat dan tanda kecakapan
  5. Satuan terpisah antara pandu putra dan putri

Pananaman akhlak mulia dalam HW

Pendidikan agama dikemas dengan metode yang menarik lewat permainan, nyanyian, kegiatan lintas alam, renungan, dan kisah-kisah teladan. Setiap pandu harus memahami, menghayati, dan mengamalkan janji dan undang-undang pandu yang merupakan rambu-rambu ketentuan moral yang harus dllakukan dalam belajar, bekerja, dan bermasyarakat. Janji Pandu diucapkan pada saat seorang pandu dilantik, sedangkan undang-undang pandu diucapkan setiap kegiatan rutin atau yang bersifat seremonial.

Pangkalan Qabilah

Qabilah dapat berpangakalan di sekolah/madrasah, pesantren, dan pemukiman. Kelebihan qabilah di sekolah/madrasah/pesatren antara lain: pengerahan anak cepat, mudah distandardisasikan, diseragamkan, dan disiplin. Kelemahannya antara lain:

  1. Kesukarelaan kurang
  2. Kreativitas dan kepedulian sosial kurang
  3. Tak biasa membaur dengan masyarakat
  4. Tak mengenal ranting Muhammadiyah
  5. Cenderung timbul eklusivisme kelas/sekolah, dan sering membosankan
  6. Kaderisasi terputus oleh jenjang sekolah

Qabilah yang berpangkalan di pemukiman memungkinkan kaderisasi lebih baik karena sejak dini putra putri Muhammadiyah sudah mengenal kegiatan nyata di ranting, bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat, sehingga rasa kepedulian terhadap lingkungan tumbuh secara alami.

  1. Pengadaan Pemimpin dan Pelatih
  2. Adakan orientasi Pengenalan HW yang diikuti oleh anggota Pimpinan Muhammadyah, Ortom, warga,  guru, dan simpatisan
  3. Mereka yang berminat aktif di HW dibagi dua kelompok, yaitu calon pemimpin Kwartir/Qabilah dan calon Pelatih.
  4. Untuk calon pemimpin disediakan kursus/pelatihan Jaya Pertiwi dan bagi calon pelatih disediakan kursus/pelatihan jaya Melati dan Jaya Matahari.

Daftar Pustaka

  1. Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta, 1971
  2. Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Anggaran Dasar & Anggara Rumah Tangga, 2016
  3. Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Mengenal Lebih Dekat Hizbul Wathan,
  4. Solihin Salam, Djenderal Sudirman Pahlawan Kemerdekaan, Djajamurni, Djakarta, 1963
  5. Syafi’i Ma’arif, Hizbul Wathan Dalam Perspektif Sejarah, Panitia Sarashan dan Loka Karya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadyah, Yogyakarta 1999
  6. Panglima Besar Jenderal Sudirman, Kader Muhammadiyah, Sardiman A.M,, Majlis Pustaka Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Adi Cita Karya Nusa, Yogyakarta 2000

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *