Dr. Harmaini, Pelatihan Nasional Jaya Matahari 2 di Riau: “Psikososial Religiusitas”

www.hizbulwathan.or.id – Pekanbaru : kita memiliki potensi untuk buruk dan potensi untuk baik, ini adalah fitrah, tapi konsep fitrah adalah baik, konsep tabularasa yang mengisi kertas putih lebih dipengaruhi oleh lingkungan.
Kasus Psikososial: Identity, munculnya ego yang memandang sesuatu diluar dari dirinya tidak benar, seperti intoleransi ini adalah akibat, penyebabnya adalah ketidakadilan. Autonomy merupakan rasa nyaman dalam ketidaktergantungan, contoh rasa nyaman dalam ketergantungan seperti kasus SN yang merasa nyaman dengan penguasa yang merasa akan menolong dalam kasus yang dia hadapi, ternyata tidak, oleh karena itu timbul berbagai sikap dan perilaku diluar dari kebiasaan. Intimacy, membentuk relasi yang tertutup dan dekat dengan orang lain, relasi ini dibangun atas dasar keuntungan, jika tidak ada keuntungan, maka relasi ini tidak akan dibangun. Sexuality, perasaan senang jika ada kontak fisik. Achivement, prestasi kemampuan sebagai anggota masyarakat, dia lebih dihargai dan dihormati jika mempunyai prestasi atau keberhasilan. Dalam psikososial religiusitas yang dilihat adalah proses bukan tujuan, karena di dalam proses itu terdapat banyak hal yang mencerminkan tujuan tersebut.
Yang sering terjadi:
Lebih sering ke tempat hiburan daripada ke masjid, lebih aktif main internet daripada membaca Al-qur’an, merasa diri paling benar, lebih percaya pada kenikmatan dunia daripada akhirat, mengaburkan makna tentang dosa dan pahala. Hal ini terjadi karena manusia memerlukan objek jelas dan nyata, inilah rahasia keimanan, jika pahala dosa ditampakkan kata nabi, maka manusia tidak akan sanggup untuk memikulnya. Mengapa ini terjadi, inilah problem moral atau akhlak, idealnya semakin seseorang itu cerdas dan berpendidikan tinggi, maka semakin baik moralnya, namun seringkali kenyataannya berbeda, seperti koruptor. Apa yang hilang di dalam diri orang itu adalah religiusitas. Seperti sholat, harus ada bekasnya di dalam bersikap dan berperilaku dengan tetangga, masyarakat, namun seringkali tidak. Menjadi tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu sulit.

Dr. Harmaini sebelum memberikan materi menghampiri salah satu peserta dan mencium tangannya, ternyata peserta tersebut adalah Ramanda Sutan yang merupakan dosennya Dr Harmaini waktu S1 di Universitas Muhammadiyah Surakarta, suasana haru bahagia dan riuh peserta lainnya memberikan suasana baru di ruang pelatihan, Alhamdulillah anak didik aramanda Sutan kini telah menjadi Doktor. (saa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *