Irawan: “Kepanduan Hizbul Wathan dan Kemandirian”

0
2

Gerakan kepanduan Hizbul Hathan merupakan salah satu organisasi Otonom Muhammadiyah yang didirikan langsung oleh K.H Ahmad Dahlah. Gerakan kepanduan Hizbul Wathan berasaskan Islam.

Pada awalnya nama Kepanduan ini bernama Padvinder Muhammadiyah (PM) pada tahun 1918. Namun pada saat itu ada pelarangan dari pemerintah Belanda untuk tidak mengunakan istilah Padvinde maka dirubahlah denga nama Hizbul Wathan pada tahun 1920 di Yogyakarta, dan pada akhirnya nama Hizbul Wathan yang kita kenal sekaran adalah Hizbul Wathan didirikan pada tahun 1918 dengan mengambil tahun berdirinya kepanduan yang ada di Muhammadiyah.

Gerakan kepandua Hizbul Wathan ini sangat banyak menempuh berbagai halangan dan rintangan yang sangat luar bisa, hingga pada tahun 1961 harus melebur kedalam GERAKAN PRAMUKA. Namun para kader-kadernya yang merupakan didikan K.H Ahmad Dahlah yang memiliki rasa bangga terhadap Muhammadiyah, dengan memegang teguh “siap melaksanakan perintah tanpa membatah” dan sesuai bait lagu Sang Surya SAMI’NA WA ‘ATHONA. Maka para kader HW ada yang bergabung dengan Pramuka dan juga membuat satu kegiatan dengan nama TIM sepak bola HW.

Pada akhirnya ibarat air selama air itu sedikit dan terhalang batu atau tembok tinggi maka air tersebut akan berusaha mencari celah sampai menuju tempat yang di tuju. Begitu pula dengan para kader Hizbul Wathan yang selalu berusaha menjadikan kader-kader Muhammadiyah dan Bangsa menjadi kader yang mandiri, tanguh dan berpretasi.

Sudah tidak kita ragukan lagi kader yang sangat terkenal di kalangan Muhammadiyah dan Negara kita ini yaitu Panglima Besar Jendral Sudirman beliu menjadi panutan di semua kalangan wabil khusus TNI dan POLRI, dengan memadukan latihan Hizbul Wathan di dalam semua kegiatan kenegaraan dan masih bayak lagi kader kader Hizbul Wathan.

Atas semangat dan Kemandirian para kader pandu Hizbul Wathan maka Hizbul wathan di bagkitkan kembali pada tahun 1998. Hanya dikarnakan ada kejadian yang sangan luar biasa di pusat ibukota maka kebanngkitanpun tertunda. Setahun kemudian tepatya pada tanggal 10 Sya’ban 1420 H/ 18 November 1999 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di bangkitkan kembali, dan di pertegas SK PPM No 92/SK-PP/VI/I.b/1999. (yang dapat membubarkan Hizbul Wathan hanya Muhammadiyah).

Para kader-kader Hizbul Wathan berharap dan selalu berusaha menyiapkan generasi penerusnya di berbagai kalangan dan tanpa terbatas usia di mulai dari usia 6 tahun sampai tak terbatas usia. Dalam perjalanan waktu, perkaderan di Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dilatih kemandiriaan, kedisiplinan dan berwawasan luas sesuai Al Quran dan Al Hadist.

Sudah tidak asing lagi di kalang kita dan bangsa kita yaitu Panglima Besar Jendral Sudirman, beliu adalah kader Hizbul Wathan yang mempunyai rasa cinta terhadap agama dan bangsa kita, dan masih banyak kader-kader Hizbul Wathan yang tidak dapat saya sebutkan.

Pendidikan dan pengkaderan di Hizbul Wathan sanganlah berbeda dengan kegiatan organisasi dan kepanduan lainnya, dimana Hizbul Wathan ini menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Telihat dinsetiap latihan dimulai dengan pembacaan doa dan pembacaan ayat suci Al Quran. Selain itu, Hizbul Wathan juga merupakan pendidikan di luar keluarga dan sekolah, dengan sistim kelompok regu dan lain-lain.

Organisasi Hizbul Wathan juga di perkuat dengan adanya aturan tersendiri yaitu AD/ART. dan mempunya struktur yang sangat rapi mulai dari tingkat Pusat sampai Qobilah/sekolah. Kegiatannya juga di kemas dengan cara sederhana dan menyenangkan dengan pola di bedakan menurut usia.

Anggota Kepanduan Hizbul Wathan adalah Warga Negara Republik Indonesia, beragama Islam, yang terdiri dari :

Anggota Biasa adalah peserta didik putera dan puteri yang dikelompokkan menjadi:

Athfal : berumur 6 sampai 10 tahun

Pengenal : berumur 11 sampai 16 tahun

Penghela : berumur 17 sampai 20 tahun

Penuntun : berumur 21 sampai 25 tahun

Anggota Pembina adalah mereka yang tugas utamanya memimpin dan atau melatih peserta didik serta mengelola dan atau memimpin Kwartir atau Qabilah. Anggota pembina terdiri dari pelatih, Instruktur, Pemimpin Satuan, dan Pimpinan Kwartir atau Qabilah. Anggota Kehormatan adalah para pecinta Kepanduan Hizbul Wathan yang karena usia, kesehatan, atau kesibukan kerja tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan kepanduan. Anggota Kehormatan terdiri dari:

  1. Pandu senior Hizbul Wathan
  2. Orang yang berjasa dalam pengembangan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
  3. Simpatisan Kepanduan Hizbul

Selain itu juga Hizbul Wathan dalam semua kegiatannya selalu berusaha mengamalkan Janji dan Undang Undang Pandu Hizbul Wathan.

kegiatan dalam membina Kemandirian di masa yang akan datang di Hizbul Wathan sangatlah banyak jenis-jenis kegiatan nya diantaranya :

  1. Ceria Pandu Athfal;
  2. Jambore Pengenal;
  3. Makhrojan Penghela dan Penuntun;
  4. Kemah bersama;
  5. Penerimaan Tamu Qobilah;
  6. Dan lain-lain.

Di setiap Daerah atau Qobilah/Sekolah di perbolehkan mengadakan kegiatan tersendiri yang sesuai AD/ART yang berlaku. Pada bulan Desember lalu, Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kabupaten Bogor menyelenggarakan kegiatan dengan sasaran Pengenal SD/MI dan SMP/MTS Muhammadiyah Se-Kabupaten Bogor. Pada tanggal 19 Desember 2019 yang bertempat di Kampus 2 STKIP Muhammadiyah Bogor, kegiatan tersebut adalah Lomba Gladi Tangkas Medan ke 1 dengan tema “Berlomba, berlatih, bekerja untuk masa depan Hizbul Wathan”. Kegiatan dilakukan dalam rangka menguji dan mengali potensi minat dan bakat para peserta didik.

Dalam suatu perlombaan pasti ada yang menang dan ada juga yang belum berhasil akan tetapi dalam kegiatan ini selalu mengedepankan Berlomba lomba dalam kebaikan. Pada kesempatan ini Juara Umum diraih oleh :

  1. Tingkat Pengenal SD/MI diraih oleh Qobilah SD Muhammadiyah Bojonggede.
  2. Tingkat Pengenal SMP/MTs diraih oleh Qobilah SMP Muhammadiyah 1 Cilengsi.

Itulah dintaranya pembianan dan pengkaderan di Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dalam rangka mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anak, remaja dan pemuda melalui pendidikan dan latihan Kepanduan, supaya menjadi orang Islam yang berarti, bertaqwa kepada Allah, berbudi pekerti luhur, berbadan sehat dan tangkas, hingga berguna bagi diri sendiri, Persyarikatan dan masyarakat.

*Penulis adalah Pelatih HW asal Jawa Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here