Songsong 1 Abad HW 2018, Ramanda Adji Subur: “Mengarahkan Kreativitas Pandu Hizbul Wathan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah”

0
2

Sidoarjo, 12 Mei 2018: Sampai saat ini para ahli belum sepakat tentang pengertian kreatifitas. Namun demikian kreatifitas sebagai sebuah ranah sosiologis-psikologis intinya adalah hal yang berhubungan dengan mencipta sesuatu. Karena itu dalam prosesnya, kreatifitas memiliki gagasan 2018dan hasil karya.

Fenomena terakhir yang banyak disoroti tentang eksistensi Pandu Hizbul Wathan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), salah satunya adalah bahwa Pandu HW PTM  dinilai kurang kreatif. Mereka dianggap mandul. Kurang memikirkan sesuatu yang menghasilkan. Kebanyakan menyebut Pandu Hizbul Wathan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah ajang “ngomong-ngomong” semata tanpa ada hasil yang dicapai. Hal ini dinilai pincang karena tidak sampai pada tataran yang lebih realistis. Kendati demikian, itulah saat mereka mengumbar wacana, berpikir idealis dan wajar terjadi demikian.

Wacana hanya ngomong saja sebetulnya sebuah prestasi tersendiri. Banyak orang “besar” karena kecakapan berbicara. Kecakapan mengadu argumentasi dan dialog secara baik. Tinggal bagaimana caranya mengoptimalkan potensi untuk maju melalui pengembangan kebiasaan berbicara secara baik dan terarah.

Kemampuan bicara itu layaknya dicermati, diapresiasi, diresponi dan dipahami, kemudian ditindaklanjuti dalam bentuk yang lebih nyata. Singkatnya, apa yang didialogkan memberikan pencerahan pemikiran kepada audien. Akhirnya, ada kesadaran dari tiap diri mereka untuk mengerjakan sesuatu yang lebih berguna.

Persoalannya, Pandu HW di PTM  mesti cermat menem­patkannya berdasarkan kecenderungan orang itu berbuat. Manusia dapat dikategorikan setidaknya pada tiga kelas kecenderungan. Sebagai seorang leader, top leader atau low leader. Jangan diharapkan seorang ahli tertentu mampu secara signifikan dengan keahliannya dalam memimpin sesuatu yang lain. Namun ada “hukum” sosial yang aneh, di kalangan masyarakat kita belakangan ini apalagi masyarakat pedesaan, mereka menganggap bahwa output perguruan tinggi adalah segalanya, dicap sebagai kaum elit dan serba bisa.

Sebagai sebuah golongan yang berdomisili di lembaga pendidikan tertinggi juga menduduki golongan anak didik tertinggi dari anak didik lain, wajar saja kalau Pandu  Hizbul Wathan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah mampu menghadirkan gagasan, pentingkan suri tauladan dan menjadi panutan golongan lain. Karena hal itu ada hubungannya dengan tingkat penguasaan keilmuan dan “status sosial”. Tinggal kita bertanya balik kepada para Pandu Hizbul Wathan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah  adakah kesadaran itu dalam diri masing­-masing?

Kalau kita menengok tuntutan masyarakat dan mencoba menghubungkannya dengan realitas tataran kemahasiswaan, ada benarnya karena Pandu HW di PTM  terikat dengan Visi dan Misi perguruan tinggi, yang harus mampu menyelaraskan tuntutan pendidikan dan pengajaran, pengabdian kepada masyarakat dan melakukan tradisi penelitian. Belum lagi tuntutan “akademis kepanduan HW yang “wajib” memberikan pembinaan pada dirinya sendiri, satuan dan masyarakat.

Metodologi Perumusan Perencanaan

Sebagai sebuah golongan yang penuh harapan, Pandu HW di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam memformulasikan dirinya masing-masing di masa depan harus menekankan pada dirinya masing-masing, bagaimana membangun kehidupan itu dengan penuh semangat oleh dirinya sendiri.

Pembinaan kepanduan  hanya sekedar saja, toh nanti dari sisi waktu bakal habis sendiri. Alat pembinaan itu terbatas adanya, dan hanya akan dirasakan secara kasat luar saja, tidak mampu menyelami secara mendalam inti permasalahan yang lebih dalam lagi pada setiap diri anak didik. Namun keberpi­hakannya cukup jelas yaitu kepribadian baik sepanjang masa.

Sebagai sebuah golongan “terbaik”, maka penempatan diri para Pandu Hizbul Wathan di PTM untuk masa depan perlu pentahapan, sesuai dengan keadaan dirinya masing-masing. Karena hukum sosial tadi tidak mungkin kita menyebut status seseorang pada satu saat, mencapai beberapa target. Pentahapan itu perlu untuk memudahkan dan lebih memperjelas bagaimana usaha-­usaha yang akan dilakukan.

Membuat rencana masa depan diri itu, awali terlebih dahulu oleh kesadaran tentang keadaan dan potensi diri sendiri secara menyeluruh dan ikhlas. Apa sesungguhnya yang menjadi kekuatan kita?. Dan apa sesungguhnya kelemahan yang mendasar dari diri kita? Apa pula bidang kehidupan yang patut menjadi pilihan serta menuntut keseriusan?

Baru setelah itu, kita akan mengembangkan kecen­derungan minat dan pengembangan diri berdasarkan keikhlasan, ketertarikan (psikologis), strategis (ekonomis) dan kebertanggungjawaban sebagai diri yang merupakan bagian dari anggota masyarakat (sosial).

Hal yang selain itu pun sesungguhnya masih dapat dipilih menjadi acuan, tapi yang terpenting adalah menempatkan diri sebagai bagian dari golongan “elit” ialah bagaimana menciptakan metodologi baru cara penguasaan dan pencetusan segala sesuatu bagi masyarakat sesuai dengan bidang pilihan tadi.

Buatlah rumusan perencanaan yang bertahap. Misal, mana target hidup yang perlu dicapai dalam jangka pendek (per-kegiatan); mana yang harus dicapai dalam jangka menengah (per-status, sebagai mahasiswa, sebagai pegawai) dan mana yang mesti dicapai dalam jangka panjang (selama hidup).

Untuk jangka pendek, bagaimana target-target kegiatan maupun aktivitas akademika berhasil tercapai dengan baik. Sedangkan jangka menengah, bagaimana menjadi sosok Pandu HW di PTM  yang baik, yang bisa menjadi panutan bagi Pandu HW lainnya. Jangka panjang ialah bagaimana memikirkan dan mencari alternatif tahapan penyelesaian itu mengarah pada rekonstruksi keahlian sesuai dengan disiplin ilmu, potensi, serta hobi untuk mencapai sebuah cita-cita ideal masa depan. Didukung oleh pelbagai aktivitas keseharian dan semasa menjadi Pandu Hizbul Wathan .

Realitas Kreativitas

Bila formulasi masa depan sudah mulai dijalankan seperti tadi, dengan dukungan pengembangan masa depan yang memikirkan metodologi baru alternatif yang baik, dengan sendirinya kreativitas akan selalu bergulir pada setiap diri anak didik juga pada setiap kesempatan.

Baik kreativitas yang merupakan pendukung masa depannya sendiri, maupun kreativitas yang dicetuskan atas dasar membangun masa depan dirinya yang lebih mungkin. Kreatifitas yang bisa dinilai poinnya cukup besar bagi seluruh lulusan seperti bagaimana menciptakan metodologi baru untuk setiap bangunan kreatifitas yang dicita-citakan. Pandu HW di PTM  adalah periode kesempatan emas untuk mengarahkan kehidupan masa depan sendiri.

Mengeliminasi Dikotomi Pandu Hizbul Wathan “PTM ” dan “Konvensional”

DISKURSUS dalam pentas kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Begitu juga dalam dinamika kehidupan kepanduan  di negeri ini. Perkembangan kepanduan  tak luput dari polemik, dilema dan friksi lunak tentang pemikiran dan wacana kepanduan . Ada golongan yang pro ada pula yang kontra. Seperti halnya masalah eksistensi Pandu Hizbul Wathan Muhammadiyah  (Pandu HW PTM ).

Tulisan pada topik ini tidak bermaksud berpretensi pada pihak tertentu, tidak memberikan legitimasi anggapan yang lainnya. Tapi lebih cenderung mengungkapkan deskripsi dan kenyataan yang berkembang di percaturan kepanduan saat ini. Karena secara sadar penulis melihat gejala itu, sekecil apapun berefek negatif bagi perkembangan kepanduan  dewasa ini.

Perbedaan adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi. Namun, apabila hukum alam itu telah merusak sendi-sendi normatif dan konstitusi, tentu saja perlu diluruskan. Paling tidak diingatkan.

Sejak usulan tentang Pandu HW Penuntun di Perguruan Tinggi Muhammadiyah digulirkan, sejak itu pulalah muncul masalah baru tentang peristilahan yang dipakai untuk menyebut secara tersendiri Pandu HW yang berpangkalan di PTM . Interpretasi terhadap penyebutan Pandu HW Penuntun  berpangkalan di jenjang pendidikan tinggi yang dimulai oleh Kwartir Pusat  untuk menandai Pandu HW yang berpangkalan di kampus perguruan tinggi Muhammadiyah adalah istilah khusus tentang kedudukan Pandu HW itu dengan menyebut “Pandu HW  yang berpangkalan di Qabilah  kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah

Anggapan ini tidak saja dipakai salah kaprah oleh Pandu HW secara keseluruhan; para Pandu HW yang berpangkalan selain di perguruan tinggi, tapi Pandu HW  yang berpangkalan di PTM itu sendiri mengklaim bahwa dirinya adalah Pandu HW PTM. Berbeda dengan Pandu HW. Nampaknya banyak pihak yang terjebak oleh istilah baru ini. Sebutan Pandu HW PTM  seolah menandai tersendiri secara istimewa bagi Pandu Hizbul Wathan  yang statusnya mahasiswa. Padahal, sesungguhnya antara mereka dengan Pandu HW di Qabilah manapun itu sama saja. PTM atau pun bukan. Namun demikian, perlu diakui secara objektif Pandu HW  yang berpangkalan di perguruan tinggi serta berstatus mahasiswa tentu saja memiliki kelebihan tersendiri. Tapi hal itu jangan sampai menjadikan mereka terkesan eksklusif. Karena, selain tidak sejalan dengan semangat kepanduan HW, juga merupakan sikap melokalisasi kapling sendiri untuk mereka yang berpangkalan di perguruan tinggi dan memberi batas dari yang lainnya. Bahkan telah melupakan hakikat proses pembinaan, bahwa Pandu HW di PTM itu sifatnya sementara. Suatu waktu, pasti ditinggalkan dan institusi tingginya itu hanya tempat mengabdi dan menggali pengetahuan, penelitian dan mengembangkan pengalaman semata.

Hambatan lain yang juga memberatkan, sebutan Pandu HW PTM  awalnya adalah untuk menyebut Pandu HW (sebagai mahasiswa) yang berpangkalan di perguruan tinggi, ternyata tidak semua anggotanya mahasiswa. Boleh jadi, bahkan ini menjadi sebuah tugas untuk pelaksanaan Pandu HW lingkungan kampus, yaitu untuk merekrut masyarakat sekitar supaya bergabung dalam pembinaan kepanduan HW. Artinya, kalau mereka melakukan tindakan rekrutmen terhadap masyarakat untuk bergabung di pangkalan PTM, berarti memberi peluang menjadikan anggotanya tidak saja mahasiswa, tapi juga unsur selain mahasiswa. Pada gilirannya, akan membentuk sebuah komunitas tersendiri yang lebih kompleks dan beragam. Dan itu bukan lagi elit mahasiswa.

Ekses negatif pengklaiman itu tidak saja mengesankan ekslusivitas yang elitis, juga pola interaksi yang diharapkan semula oleh Gerakan Kepanduan  Hizbul Wathan  yaitu: untuk membawa masyarakat sekitar menjadi terhambat. Kita bisa menyaksikan bagaimana Pandu HW  PTM  menjadi lupa akan tugas untuk mengembangkan ini, mereka senang sendiri sebagai Pandu HW Penuntun yang mahasiswa. Sementara akumulasi dari tugas mengabdi dan mengembangkan Qabilah : menularkan pengetahuan dan pengalaman ke masyarakat umum dan Qabilah  lain menjadi macet.

Interpetasi yang agak miring ini memang awalnya berdasar dari ketentuan tertulis yang pernah ditetapkan secara tegas oleh Kwartir Pusat, dari beberapa ketentuan tentang Pandu HW PTM. Amatlah nampak keberpihakan Kwartir Pusat HW untuk menyebut “kekhususan” itu. Yakni, tentang Kerjasama dalam usaha Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Kepanduan Hizbul Wathan di Qabilah  yang Berpang-kalan di Perguruan Tinggi (Dalam Konsep), dan Juklak lainnya seputar kesepakatan departemen Diklat dengan Badan  Diklat Hizbul Wathan Pusat .tempat mangkalnya PTM  tertentu dengan Kwarpus .

Terminologi Pandu HW  konvensional terasa asing dan baru. Istilah ini penulis maksudkan untuk menyebut Pandu Penuntun HW yang pada umumnya (biasanya) untuk membedakan dengan Pandu HW Penuntun  yang “elitis”. Pandu  HW  konvensional adalah mereka yang secara konsisiten melakukan pembinaan dan pengembangan berdasarkan SK-SK yang dikeluarkan oleh Kwartir Pusat  serta bersifat umum.

Qabilah / Pangkalan Pandu  HW  konvensional adalah mereka yang cukup concern terhadap pembinaan kepanduan. Nuansa strukturalis dan idealis tidak terlalu berkembang di Qabilah HW  semacam ini. Qabilah  HW  seakan ingin kembali pada konsepsi awal kepanduan, yakni Qabilah Pandu Hizbul Wathan  berbasis teritorial. Kendati amat sulit menemukan Qabilah  tersebut belakangan ini.

Pihak konvensional beranggapan bahwa Pandu HW  itu sama saja antara di perguruan tinggi dengan yang selain perguruan tinggi. Masih pendapat golongan ini, Pandu HW  adalah institusi yang mengembangkan persamaan, maka tidak ada sifat membedakan (Exlusivisme) golongan tertentu yang dianggap “paling” dari yang lainnya. Kendati memang dia berstatus sebagai “golongan tertentu,” tentu saja yang lebih utama adalah konsistensi berdasarkan aturan yang ada. Juga komitmen menerapkan nilai-nilai kepanduan yang lebih universal.

Kehadiran Pandu HW  konvensional ini telah mampu membangun suasana yang lebih harmonis antar perbedaan yang sifatnya teknis. Juga sekaligus memberi pemahaman yang sesungguhnya tentang pola-pola interaksi yang dikembangkan oleh Gerakan Kepanduan  Hizbul  Wathan.

Golongan ini lebih moderat, bersahaja dan realistik. Rumusan umum dan konvensional yang menjadi pedoman dan perhatian mereka. Kendati secara perorangan anggota Qabilah  HW ini banyak pula yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Tapi, etos kepanduan HW  mereka murni dan sejati.

Keberadaan Pandu HW PTM, sebetulnya masih menjadi fenomena tersendiri sampai saat ini. Ada keunikan, ada “kesablengan”, dan ada “nyeleneh” dalam pola geraknya. Tapi tidak sedikit pula yang berusaha untuk berlaku sewajarnya.

Satu hal yang suka dilupakan oleh para Pandu  HW PTM  adalah mereka melakukan tindakan-tindakan yang non­ prosedural. Mereka tidak lagi mempertimbangkan jalur adminsitratif yang berlaku dan disepakati oleh pihak Kwartir dalam mengurus pelbagai hal untuk mencapai tujuannya. Tindakan ini berawal dari anggapan mereka sendiri yang mengaku sebagai Pandu HW  yang termasuk high class.

Dalam dimensi organisatoris dan sosiologis, high class membawa suatu perubahan dan pola pergerakan tersendiri; membentuk kelompok sosial elit yang akan berbeda dengan gerakan kaum kebanyakan (konvensional). Manuver yang dilakukannya terasa lebih mendominasi, kendati sebetulnya hanya riakannya kecil saja. Ibarat arus sungai berbenturan gelombang ombak lautan.

Ada tradisi pada sebagian besar Pandu HW yang menyebut dirinya Pandu HW PTM, di antaranya: Pertama, kebiasaan mencocokan (secara paksa) usia mereka menjadi golongan Penuntun HW. Padahal secara umum, usia mahasiswa kita sekarang, pas memasuki arena lembaga pendidikan tinggi rata-rata masih berusia Pandu HW Penghela. Kedua, tuntutan terhadap Polbin (pola Pembinaan) pun akhirnya berlangsung terus-menerus tanpa henti. Lokakarya, seminar, semiloka, sarasehan dan sejumlah kegiatan lain yang intinya ingin menggugat Polbin Penghela dan Penuntun yang ada sekarang ini, agar menyesuaikan dengan keinginan mereka, terus berlanjut. Ketiga, aktivitas Dewan Sugli (DS) juga seringkali menjadi sorotan. Penilaiannya Dewan Sugli  dianggap kurang profesional. Fokus sorotan keanggotaan Dewan Sugli bahkan pudar dan tercemar dari aturan, karena masih ada Dewan Sugli  yang tidak ikut serta dalam pembinaan yang sesungguhnya di Qabilah HW. Untuk memenuhi persyaratan menjadi anggota Dewan Sugli  mereka kemudian mendirikan Kerabat Penghela / Kafilah Penuntun  di sekolah sebelumnya seperti SD, SMP dan SMA. Sehingga anggota Dewan Sugli  sendiri menjadi tidak partisipatif dengan pangkalan tempat ia mencari ilmu di Universitas atau Institut. Keempat, orang dewasa di PTM pun tidak aktif partisipatif ke Kwartir. Kalaupun secara perorangan ada, hanya pribadi saja. Tidak membawa suara PTM.

Dari sisi keanggotaan, Pandu  HW Penuntun PTM  biasanya adalah mereka yang kurang aktif mengikuti kepanduan Hizbul Wathan di SMA-­nya. Namun demikian ada juga beberapa orang yang aktif, tapi tidak mencapai prosentase yang memuaskan. Sementara itu ditemukan pula anggota yang belum sama sekali mengikuti pembinaan kepanduan  Hizbul  Wathan  sewaktu SMA. Hal inilah yang juga turut memberikan penyulut sikap kritis Pandu HW PTM tentang pelbagai hal, karna pemahaman yang kurang lengkap tentang kepanduan  Hizbul Wathan .

Keberadaan Pandu Penuntun  HW  PTM  dan konvensional adalah gejala menarik untuk diamati. Dan ini menjadi potensi untuk pengembangan Gerakan Kepanduan  Hizbul Wathan  masa depan, kalau di antara keduanya mampu diharmonisasikan dan diproporsikan.

Untuk menselaraskan kembali keadaan Pandu HW pada nilai-nilai kepanduan dan atau kepanduan  yang sesungguhnya, ada baiknya kalau setiap golongan (PTM  dan konvensional) menyadari bahwa antar mereka itu sebetulnya sama-sama sebagai pandu HW Persyarikatan Muhammadiyah. Namun tiap mereka memiliki potensi tersendiri-tersendiri yang dianugrahkan ALLAH  Subhanahu wa ta’ala  kepada mereka, untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Anugrah itu diciptakan ALLAH  Subhanahu wa ta’ala  adalah untuk saling melengkapi.

Keunggulan itu akan menjadi manfaat yang terus ­menerus kalau di antara mereka menjalin hubungan yang harmonis, saling mengisi dan tepo saliro antar mereka. Sehingga cita-cita pembentukan Pandu Hizbul  Wathan  di perguruan tinggi khususnya, maupun golongan ATHFAL-PENGENAL-PENGHELA-PENUNTUN  yang solid dan terbuka akan tercapai.

Wujud kebersamaan kedua QABILAH ini adalah propor­sionalitas. Proporsi profesional antara Pandu HW PTM dan profesional pembinaan Pandu HW konvensional di lapangan akan mencetak Pandu HW Teladan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here