IMG-20171029-WA0006

Menyongsong 1 Abad HW 2018, Kwarda HW Sidoarjo: “Belajar Cerdas Tangkas dengan Pioneering”

www.hizbulwathan.or.id – Sidoarjo : Kehidupan kepanduan tak lepas dari tongkat, tali, peluit, dan Semaphore? Ya itu tidak salah. Memang keseharian pandu khususnya pandu Hizbul Wathan selalu akrab tali-temali atau Pioneering seperti tergambar dalam Jamboree Pengenal tingkat SMP 2017 Kwarda Sidoarjo yang berlangsung tanggal 20-22 Oktober 2017 di Agro Mulia Prigen pasuruan. “Di sini memang diselenggarakan lomba Pioneering atau tali temali. Ini merupakan aplikasi dari keahlian membuat simpul tali seperti simpul hidup, mati, pangkal, jangkar dan Lain-lain pada pembuatan figure atau bangun”, terang Khusnul Abidin yang menjadi ketua panitia. Setiap regu membuat sebuah bangun menggunakan 20 tongkat ukuran 160 cm dan 12 tali ukuran 5 m. “setiap regu harus membuat bangun dalam waktu 30 menit. Bangun yang dibuat bebas tapi tidak boleh memotong tali atau tongkat. Semua harus lengkap seperti aslinya, ” tambah Abidin yang juga menjabat Kepala SMP Muhammadiyah 4 Porong. Apa para siswa berhasil menyelesaikan tantangan dalam waktu 30 menit? Ternyata luar biasa. Semua regu berhasil menyelesaikan dalam waktu 30 menit pas. Penilaian yang dilakukan dewan juri meliputi ketepatan simpul, kerapian simpul, kekuatan simpul, dan keindahan bangun. Pengujian terhadap kekuatan simpul biasanya dilakukan dengan menginjak, memutar, bahkan menaiki bangunan yang dibuat. Hasil karya Pandu Pengenal ini bermacam-macam mulai dari miniatur kakbah, benteng pertahanan, menara pantau, sampai pesawat luar angkasa. Setelah dewan juri memeriksa dan memberikan penilaian, setiap regu dipersilahkan mempresentasikan hasil karyanya. Materi dan cara presensinya juga menarik, seperti yang dilakukan SMP Muhammadiyah 4 Porong. Dari lokasi pembuatan bangun ke lokasi presentasi mereka mengangkat burung merak karyanya sambil ditunggangi. Lain lagi dengan SMP Muhammadiyah 5 Tulangan yang membuat miniatur kakbah. “Kami membuat kakbah, ” kata jubirnya. “karena kakbah sangat suci maka tidak boleh diinjak apalagi, ” jelasnya lagi disambut sorak dan tepuk tangan para penonton. Sementara SMP Pondok Annur atau Muhammadiyah Boarding School Tanggulangin (Mubosta) membuat kincir angin karena setiap hari melihat kincir di tambak. Yang paling seru adalah SMP Muhammadiyah 10 atau SMP MIO yang membuat benteng pertahanan. “Kami dari SMP MIO membuat benteng pertahanan, ” kata jubirnya dengan berapi-api. “Karena ini benteng pertahanan, maka kami tidak kuat mengangkatnya, ” lanjutnya sambil disambut tepuk tangan dan sorak para penonton. Selamat berkreatifitas. (Ernam)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *