1 Abad HW 2018, Ramanda Uun: “Bercermin kepada Pisang dalam Pembentukan Kepribadian Manusia”

Alam semesta diciptakan oleh Allah mengandung berbagai manfaat untuk kehidupan manusia. Ada yang dapat dijadikan makanan, obat-obatan, pakaian, bahan bangunan, dan dijadikan cermin atau guru untuk pembentukan kepribadian, serta dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Maha Pencipta.

Di antara sekian banyak tumbuh-tumbuhan yang sering kita dapati adalah “pisang” . Pisang tumbuh di mana-mana, berbuah setiap saat, mudah didapat terutama di pasar-pasar. Buah pisang biasanya dijadikan makanan pelengkap makan (cuci mulut).

Dalam tulisan sederhana ini penulis akan mencoba melihat kehidupan pisang sebagai sarana untuk membentuk kepribadian seseorangm sebab pisang itu kehidupanya sangat unik.
Bagian-bagian Psang yang Unik
1. Batangnya
Batang pisang terdiri dari lapisan pelepah (kalokop) yang tersusun rapi sehingga menjadikan pohon pisang itu kuat menahan beban, terutama bila sudah berbuah. Pelajaran yang dapat diambil dari pohon pisang adalah:
a. Kesatu paduan pelepah pohon pisang ini cermin untuk disiplin hidup (berjamaah), sehingga sanggup berdiri dan menahan terpaan angin.
b. Batang pisang yang belum berbuah bila dipotong, tidak akan mati. Ia tumbuh lagi. Ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak boleh berhenti atau putus asa selama hayat dikandung badan

2. Daunnya
Daun pisang sebagai penghias pohon, banyak kegunaannya bagi manusia. Kebanyakan dipakai pembungkus makanan, malah ada yang membuat makanan yang dikukus dan direbus setelah dibungkus daun pisang, sehingga makanan terjaga kebesihannya, dan sisanya (bekasnya) dapat dijadikan pupuk.

Pelajaran yang dapat diambil ialah kita harus siap berkorban seperti daun pisang. Kita harus siap sedia menjaga keamanan dan kebersihan dalam melaksanakan amanah. untuk kepentingan yang kebih besar, walaupun diri harus berkorban.

3. Bunganya (jantung) dan buahnya
a. Bunganya
Pada mulanya menunjuk ke langit. Ini menunjukkan bahwa ia memohon petunjuk kepada Yang Kuasa, bagaimana caranya supaya berguna. Selanjutnya bunga pisang merunduk karena ia telah berisi. Kelopaknya satu persatu lepas, berarti ia memberi kesempatan kepada bakal buah pisang untuk melihat dunia, menikmati udara, air, dan sinar matahari untuk membesarkan dirinya.
b. Buahnya
Buah pisang tersusun rapi seperti sisir (sikat), kemudian bergabung dalam tandan (turuyan) yang ditopang oleh batang yang kuat. Ini menunjukkan bahwa hidup ini harus bersatu padu dan disiplin untuk membentuk kekuatan dan keindahan. Buah pisang terutama yang masih muda mengandung getah, yang apabila mengenai pakaian tidak akan luntur, apabila mengenai telapak tangan kemudian kena lumpur, maka telapak tangan akan berwarna hitam.

Bila buah pisang sudah tua,apalagi masak di pohon sudah mulai diincar orang untuk ditebang, atau kelelawar yang akan memakannya. Pisang hanya sekali berbuah, sesudah itu mati. Ia rela mati karena sudah berbuah. Pisang berbuah bukan karena harganya mahal.
Kehidupan pisang badalah cermin bagi manusia agar.
a. Hidup mengikuti sunnatullah.
b. Hidupus diisi dengan amal shalih (ikhlas dan ihsan).
c. Pantang putus asa sebelum tugtas selesai dan tujuan tercapai.
d. Hidup di dunia ini hanya sekali, seperti pisang. Bila sudah mati harus dikenang orang seperti pisang yang bermanfaat seluruh bagian pisan itu.
e. Karena itu jangan berani mati, kalau belum berbuah amal shalih.
f. Cara/jalannya kita harus sanggup hidup sepanjang kemauan Islam.
g. Kita harus malu oleh pisang, kalau hidup tak menghasilkan buah yang berguna.

Kesimpulan
1. Allah menciptakan pisang tidak sia-sia. Keberadaan pisang harus dijadiian literatur yang selalu dibaca, dipikirkan, direnungkan, ditafakuri agar diri memiliki kepribadian unggul yang memahasucikian Allah dan mentauhidkannya.
2. Pisang sebelum mati sudah menyiapkan anak (kader) untuk meneruskan perjuangannya.
3. Kita pun harus mendidik, membimbing, dan mengawasi generasi muda supaya menjadi generasi yang bercermin kepada kehidupan pisang.
4. Mengambil ibarat aau bercermin kepada pisang berarti kita siap dan sanggup melestarikan pisang.

Subhanallah…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *