Menyongsong 1 Abad HW 2018, Ramanda Uun Harun Syamsuddin: “Peran Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dalam Pembentukan Karakter Bangsa”

 

Allah menciptakan manusia dengan maksud dan tujuan tertentu (Q.S. 23: 115). Manusia diciptakan Allah dari bumi (tanah dan air) dan Allah mengamanati manusia supaya memakmurkannya (Q.S. 11: 61). Manusia diberi hak untuk menguasai bumi dan berkewajiban memakmurkannya. Memakmurkan artinya membuat (menyebabkan) bumi ini menjadi makmur, yakni banyak hasilnya, sejahtera penduduknya, serta berkecukupan. Dengan kata lain manusia harus berbuat kebajikan dan dilarang membuat kerusakan di bumi ini (Q.S 28: 77).

Bumi ini pewarisnya adalah manusia yang shalih (Q.S. 21: 105). Manusia yang shalih adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya , berjuang dengan sungguh-sungguh pada jalan yang telah ditentukan Allah dengan harta dan jiwanya (Q.S.61: 11), disertai niat yang ikhlas (Q.S. 98: 5). Perjuangannya ditujukan untuk memperoleh kurnia dan ridla Allah (Q.S. 48: 29).

Manusia yang shalih dapat dibuktikan dari sikap, ucapan dan perbuatannya bila diseru oleh Allah, ia sambut seruan itu (Q.S. 8: 24), ucapan dan perbuatannya “ sami’na wa atha’na” (Q.S. 24:51), istiqamah dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, tiada yang ia takuti kecuali Allah, serta bertaqwa kepada Allah (Q.S. 24: 52). Mereka itulah yang akan memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan.

  1. Apa dan Mengapa HW Didirikan ?

HW (Hizbul Wathan) adalah nama kepanduan dalam Muhammadiyah. Hizbul Wathan artinya “Pembela Tanah Air”. HW didirikan tahun 1918 oleh K.H.Ahnad Dahlan,[i] Sebelumnya telah berdiri Nederlands Indisce Padvinders Vereniging (NIPV) tahun 1914, cabang dari Nederlands Padvinders Organisastie (NPO),  dan Javanse Padvinders Organisatie (JPO) tahun 1916 yang diprakarsai oleh S.P. Mangkunegara VII di Surakarta.

K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang ulama, muballigh, dan pendidik yang memiliki orientasi pemikiran yang jauh ke depan. Beliau  memiliki perhatian yang besar terhadap generasi muda dan masa depan masyarakatnya/bangsanya (Q.S. 49: 18). Fikiran dan tindakannya sangat strategis. Beliau tertarik dengan kepanduan yang telah ada. Beliau mengambil “metodenya” untuk mendidik anak-anak muda Muhammadiyah di luar sekolah.

Melalui HW diharapkan generasi muda Muhammadiyah  sanggup serta mampu menghamba kepada Allah, berbuat kebajikan untuk nusa dan bangsanya. Mereka harus dibekali dengan keyakinan tauhid, akhlak mulia serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

  • Fungsi dan Tugas

Fungsi HW sebagai salah satu Organsasi Otonom Muhammadiyah adalah:

  1. Pembentkan dan pembinaan kader Persyarikatan
  2. Pembinaan Warga Muhammadiyah dan pembimbingan kelompok masyarakat tertentu dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
  3. Pengembangan Persyarikatan

(Kaidah Ortom Bab III Pasal 5)

  1. Secara khusus HW berfungsi sebagai salah satu wadah pekaderan yang efektif (SK PPM no.92/1999 ttg. Kebangkitan Kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dalam Muhammadiyah), yaitu pembentukan kader Ideologis praktis

Adapun tugas ortom adalah:

  1. Membentuk dan membina kader Persyarikatan.
  2. Membina warga Muhammadiyah dan membimbing kelompok mashyarakat tertentu dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
  3. Mengembangkan Persyarikatan.

(Kaidah Ortom Bab III Pasal 6)

Adapun fungsi lain  HW adalah:

  1. Bentuk/model pendidkan non formal yang efektif dalam pembinaan kader bangsa.
  2. Lahan persemaian jiwa semangat bela negara

Tugasnya adalah-

  1. Menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan.
  2. Membina rohani dan jasmani anak, remaja , dan pemuda dengan ajaran Islam yang bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah, serta pembaharuan (tajdid) sesuai dengan pekembangan zaman.                                                                                                                                                     Kontribusi HW
  1. Anak-anak, remaja, dan pemuda banyak yang tertarik dan menjadi anggota HW. Mereka merasakan banyak mendapat maslahat, manfaat, dan keuntungan menjadi Pandu HW. Tidak sedikit anggota HW yang  percaya diri dan memliki kepribadian yang baik, serta memjadi warga masyarakat yang berguna.
  2. Tidak sedikit yang lahir dari HW orang-orang yang tidak hanya menjadi tokoh/pimpinan Muhammadiyah. Tidak sedikit yang menjadi tokoh nasional, pimpinan TNI, POLRI, seperti: Jenderal Besar Sudirman (Bapak TNI), Sudirman Brojonegoro (Mantan Pangdam Brawijaya), Basofi Sudirman (Mantan Gubernur Jawa Timur), Sarbini (Mantan Pangdam Diponegoro/Mentreri Veteran/Ketua Kwarnas Pramuka) Jenderal Besar Suharto (Mantan Presiden RI), Daryatmo (Mantan Ketua MPR), Budiyono (Mantan Wakil Presiden RI), dan Rofiq J.A.
  3. Melancarkan brdirinya Gerakan Pramuka.
  1. Problematika Hidup

Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi   untuk memenuhi dan melayani keperluan hidup, ternyata tidak sedikit mendatangkan masalah baru dalam kehidupan, terutama di kalangan anak-anak, remaja dan pemuda. Tidak sedkit generasi muda yang terpeleset dan jatuh ke jurang kesengsaraan. Tidak kurang yang tidak dapat menangkap arti hidup yang sebenarnya, tidak tahu jalan hidup, dan tujuan hidup (Q.S. 23: 115).

Akibat dari jiwa kosong dari ajaran Tauhid, ahklak mulia tidak menghiasi diri, ibadah tidak menentu,  maka terjadilah berbagai hal yang membawa kepada kehancuran bangsa dan negara serta tatanan kehidupan di dunia ini.  Indikasinya timbul  kemusyrikan  baru, kebiadaban, kefasikan, kezaliman, berbagai kejahatan, dan sebagainya.

Mari  kita menyimak unggkapan seorang penyair ( Syauqi Bey)  mengatakan:

انما الامم الاخلاق ما بقيت  فان هم ذهبت اخلاقهم ذهبوا          i      

Artinya: Sesungguhnya bangsa itu jaya selama mereka masih mempunyai akhlak (yang mulia). Maka apabila akhlak (yang mulia) itu telah hilang, maka hancurlah bangsa itu.

Buya HAMKA menyatakan:

Tegak rumah karena sendi

Runtuh sendi rumah binasa

Sendi bangsa adalah budi;

Runtuh budi runtuhlah bangsa

Hal-hal yang negatif di kalangan  generasi muda khususnya, tentu tak boleh dibiarkan.  HW dibentuk untuk mengajak kepada kebajikan, menyuruh dengan baik, dan mencegah kemunkaran (Q.S. 3:104) serta berusaha menjadi yang terbaik (Q.S. 3: 110).  HW  memiliki sistem (manhaj) yang  telah pernah dibuktikan dan akan terus diperjuangkan, serta dikembangkan dalam kehidupan beragama , berbangsa, dan bernegara. Sistem  pendidikan yang dimiliki oleh HW itu  harus disambut, dikaji, direnungkan, diimplementasikan, dikembangkan oleh kalangan muda khususnya untuk membentuk bangsa yang berkarakter, agar menjadi orang  shaleh yang mampu mewarisi dunia ini. Bangsa yang berkarakter mulia akan mampu tegak di bumi ini, akan diperhitungkan meskipun jumlahnya sedikit, dengan syarat: hidupnya beasas tauhid, akhlaknya mulia (Q.S. 2L 249)

  1. Sistem (Manhaj) HW dalam Pembentuan Karakter Bangsa

Sistem HW dalam pembentukan karakter bangsa berupa Prinsif Dasar dan Metode (kaifiat/cara)

  1. Prinsip Dasar
  2. Tauhid
  3. Akhlakulkarimah
  4. Kode Kehormatan (Janji dan Undang-Undang Pndu)
  5. Metode
  6. Perberdayaan peserta didik lewat sistem beregu ( kelompok kecil)
  7. Kegiatan kebanyakan di alam terbuka
  8. Sifat menarik, menyenangkan, dan menantang
  9. Ada kenaikan tingkat dan tanda kecakapan.
  10. Satuan dan kegiatan terpisah antara putra dan putri.
  • Peran HW

Peran HW tertuang dalam Mars HW dan Hymne HW, yang intinya sebagai berikut:

Mars bait I

  1. Memegang amanah
  2. Menjunjung agama
  3. Berteguh hati sebagai baja
  4. Menjalankan kewajiban dengan sopan serta perwira
  5. Hidup bermasyarakat
  6. Sedikit bicara banyak bekerja

 

Mars bait II

  1. Selalu siap sedia berbuat amal dan jasa dengan ikhlas dan gembira
  2. Pandu perwira Islam, putra Indonesia
  3. Setia dan dapat dipercaya dalam semua janji dan bakti untuk agama dan bangsa
  4. Cepat dan tangkas tingkah terjangnya
  5. Sedikit bicara banyak bekerja

Mars bait III

  1. Pandu putra harapan pendukung cita gerak Islam
  2. Selalu siap bekerja
  3. Berakhlak mulia, taqwa, dan taat beribadah
  4. Teguh patuh setia agama
  5. Hemat, cermat, cakap, dan jujur
  6. Ikhlas dari sanjung puja
  7. Tabah, giat, dan bersemangat

Hymne HW Panduku

  1. Pembela tanah air
  2. Kader pemimpin bangsa
  3. Semboyannya “Fastabiqul Khairat”
  4. Semangat pantang surut membina insan yang berakhlak mulia
  5. Beriman teguh dan bertakwa
  6. Berbakti demi nusa dan bangsa, untuk kesejahteraan masyarakat
  7. Janji dipenuhi
  8. Quran dan Hadis pedoman hidupnya
  • Khatimah
  1. Pemilihan nama HW bagi Kepanduan Muhammadiyah sangat tepat, dengan tugas melaksanakan salah satu usaha Muhammadiyah untukencapai maksud dan tujuannya.
  2. HW telah menghasilkan kemaslahatan dan kemanfaatan bagi bagsanya dan negaranya.
  3. HW memiliki model Pendidikan bagi generasi muda bangsa, tetapi karena non aktif selama lebih kurang 39 tahun, maka banyak anak bangsa yang masing merasa asing dengan HW
  4. Sekalipun pernah dihambat oleh penjajah dan pemerintah orde lama, tetapi karena jiwanya dicelup dengan celupan buatan Allah dan hidupnya dituntun (berpedoman) oleh Al-Quran dan As-Sunnah Rasulullah, maka bila ada celah-celah/peluang HW bangkit dan bergerak lagi ( falsafah air,  pisang, atau biji petai cina yang dikubur d tembok)
  5. Bersama HW insya Allah terwujud kader bangsa yang amanah dan bertanggung jawab.

 

Daftar Pustaka

  1. Affandi, Muhammad, 1999, PERAN DAN FUNGSI HIZBUl WATHAN DI MASA DEPAN, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabiitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta
  1. Departemen Agama RI, 1971, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta
  1. Djatnika, Rachmatr, 1992, SISTEM ETHIKA ISLAM, Pustaka Panjmas, Jakarta
  1. HAMKA, 1956, LEMBAGA BUDI (DALAM MUTIARA FILSAFAT), Wjaya, Jakarta
  1. Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1987, PATAH TUMBUH HILANG BERGANTI, jakarta
  1. Ma’arif, Syafi’I, A, 1999, HIZBUl WATHAN DALAM PERSPEKTIF SEJARAH, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta
  1. Najib, Hilman, 1999, PERAN DAN FUNGSI HIZBUl WATHAN DI MASA DEPAN, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hiizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhyammadiyah, Yogyakarra
  1. PP Muhammadiyah, Majlis Hizbul Wathan, 1961, Tuntunan Hizbul Wathan (Kenang-Kenangan), Yoigyakarta
  1. Sumitro, Ahmad, 1999, VISI DAN MISSI GTERAKAN KEPANDUAN DALAM PEMBANGUNAN BANGSA, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabilitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusa Muhammadiyah, Yogyakarta
  1. Sunarto, 1999, PERANAN GERAKAN KEPANDUAN DALAM MEMBENTUK KEPRIBADIAN ANAK-ANAK, REMAJA DAN PEMUDA, Panitia Sarasehan dan Lokakarya Rehabiitasi Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta.

Ramanda Uun Harun Syamsuddin

Ketua Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan

yang membidangi Pendidikan dan Pelatihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *