Modernisasi Pemikiran Pendidikan Islam di Muhammadiyah

0
116

oleh : Ahmad Haidar Mumtazan

“Muhammadiyah sekarang ini, lain dengan muhammadiyah yang akan datang. Maka, teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan dimana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah, jadilah mester, insinyur dan lain-lainnya dan kembalilah kepada Muhammadiyah.” (Ahmad Dahlan).

Berefleksi dari nasehat tokoh pendiri muhammadiyah diatas dapat kita ketahui bahwasanya pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan yang menjadi tolak ukur pengetahuan dan tujuan dari pendidikan sendiri pada dasarnya merupakan memanusiakan manusia (Wahyudin, 2012). Dalam hal ini, tidak hanya unggul dalam bidang akademik tetapi juga unggul budi pekerti. Sejalan dengan undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah “Agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (suyanto, 2010:1).

Muhammadiyah berkembang pesat dari waktu ke waktu agar bisa mendedikasikan persyarikatan untuk bangsa dan negara, karena muhammadiyah sendiri adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sudah menjadi tanggung jawab muhammadiyah untuk menjadi media dalam membangun karakteristik anak-anak bangsa, bisa kita lihat dari lahirnya muhammadiyah sampai sekarang semua amal usaha yang dibangun di peruntukan untuk kemajuan kader bangsa, dari sekolah dasar, pondok pesantren, universitas, panti asuhan dan lembaga amal usaha yang lain. Bedanya di muhammadiyah para penerus bangsa di imbangi dengan muatan-muatan islam yang menjadi dasar dari pendidikan itu sendiri. Pada lembaga pendidikan muhammadiyah, baik sekolah formal maupun kajian non formal diluar sekolah ada dorongan untuk memiliki budi pekerti yang luhur dan berfikiran maju, mengingat muhammadiyah sendiri berdiri untuk adanya tajdid atau pembaharuan. Yang membuat kader muhammadiyah bisa berfikir mandiri untuk memajukan bangsa dan negara.

Contoh nyata yang bisa kita lihat saat ini adalah, dimana indonesia dalam keadaan kritis karena dampak virus covid-19 yang tersebar di seluruh belahan negeri. Muhammadiyah ikut andil dalam garda terdepan untuk pencegahan persebarannya. Muhammadiyah kirim 60.000 lebih relawan dan gelontor kan 120 Milyar untuk membantu negeri tercinta, ini adalah bentuk dari pemikiran mandiri dari muhammadiyah untuk berbakti pada bangsa. Sistem pendidikan pun dikemas lebih praktis dengan daring atau online, ini semata-mata menjaga persebaran covid-19 dan mengutamakan keselamatan warga indonesia terkhusus para kader yang dibawah naungan muhammadiyah.

Terbukti muhammadiyah memberikan solusi dan begitu juga pertanggung jawaban tersebut, solusi pertama adalah bahwa muhammadiyah menghimbau bahwa seluruh warga wajib menjaga diri dan tidak banyak keluar rumah. Dan pertanggung jawaban dari muhammadiyah adalah muhammadiyah menggelontorkan dana 120 milyar untuk membantu masyarakat yang terkena dampak covid-19 disisi lain muhammadiyah juga mengirim 60.000 relawan untuk mengawal jalannya protokol-protokol kesehatan di sekitar masyarakat.

Seperti kata alm Pak AR (Ketua PP Muhammadiyah tiga periode) “Tanpa pengajian, Muhammadiyah ibarat jasad yang tak bernyawa, tak memberi manfaat apa-apa” disini bisa kita garis bawahi bahwa muhammadiyah hadir untuk memberi manfaat terkhusus dalam bidang ilmu dan berfikiran modern. Dan bisa mengikuti perubahan zaman dengan tetap berpegang teguh pada adab dan sopan santun. Kita di tuntut menjadi orang besar, orang yang bermanfaat untuk kembali ke muhammadiyah dan menghidupi muhammadiyah dan mengawal perkembangan negara Indonesia menjadi “Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur” yakni negara yang makmur dan dikasihi oleh Allah. Perlu kita ingat bahwa indonesia berdiri atas berbagai suku, agama dan budaya jadi sebagai kader bangsa dibawah naungan muhammadiyah kita diajarkan untul bertoleransi tinggi dan berakhlaq mulia karena islam mengajarkan itu, seperti yang dikatakan oleh KH. Ahmad Dahlan “Kasih sayang dan toleransi adalah kartu identitas orang islam”. Wallahu alambisshowab.

Daftar Pustaka:
1. KH.Ahmad Dahlan Sang Pencerah,Pendidik dan Pendiri Muhammadiyah, Sucipto Heri/th2010.
2. Suyanto Ph.D 2010: model pembinaan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Jakarta
3. Wahyudin U dan agustin M (2012) penilaian perkembangan anak usia dini. Bandung: Refika aditama
4. Pak AR dan jejak-jejak bijaknya. Oleh Haidar Musyafa. Imaniya tangerang april 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here