Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Ibunda Shoimah Kastolani: “Urgensi Kebangkitan Pandu Putri Hizbul Wathan”

 

Sejak awal Kyai Dahlan menyadari pentingnya perempuan ikut  berkontribusi memajukan bangsa, untuk memajukan bangsa perempuan harus cerdas, sehingga direkutlah remaja putri yang disekolahkan sebagai kader pemula. Perkoempulan perempoean yang didirikan KHA Dahlan ini mendasari gerakannya dengan motivasi surat Annahl : 97

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”

Semangat dari ayat tersebut Kyai Dahlan telah meletakkan pijakan dasar tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan, hal tersebut mencerminkan bahwa Kyai Dahlan  telah menempatkan perempuan dan laki-laki dalam peran kemasyarakatan yang setara.Salah satu bentuk perhatian Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid adalah keinginan untuk memajukan kaum perempuan  yang diwujudkan  dengan memberikan hak otonom kepada organisasi perempuan(‘Aisyiyah) sebagai  sayap perempuan persyarikatan.Secara sosiologis sejak berdirin gerakan  ‘Aisyiyah telah mengambil peran yang signifikan pada pergerakan perempuan di Indonesia. Salah satu bukti sejarah adalah pada saat Kongres Perempuan pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1928, ‘Aisyiyah berperan signifikan terhadap suksesnya acara tersebut.Kesuksesan keterlibatan aktivitas dan peran ‘Aisyiyah pada kancah nasional ini jelas tidak lepas dari kemajuan pandangan Muhammadiyah saat itu tentang perempuan.sehingga perempuan Muhammadiyah duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan para partnernya yang laki-laki, juga menunjukkan akan dinamika progresivitas di persyarikatan.

Dengan diberikan hak organisasi otonom khusus, ‘Aisyiyah  sebagai gerakan perempuanberkemajuan terus mengepakkan sayap dalam memajukan umat, bangsa, dan negara. Kiprah Aisyiyah dalam gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid mengandung nilai pembebasan, pemberdayaan, dan kemajuan (pencerahan) kehidupan melalui berbagai aspek dan strategi  di bidang pendidikan, sosial, kesehatan, dan ekonomi. Aspek tersebut merupakan bagian dari wujud praksis dalam memanifestasi nilai-nilai Islam yang berkemajuan yang dihasilkan melalui proses tidak lepas dari tingginya ghirah perjuangan dalam gerakan, kegigihan, dan militansi dalam setiap peran yang dikiprahkannya untuk mencapai spirit nilai Islam yang berkemajuan, oleh sebab itu kehadiran Aisyiyah sangat besar pengaruh dan peranannya dalam gerakan kaum perempuan untuk mencapai kejayaan perempuan muslim  ditengah peradaban.Dengan demikian kelahiran dan kehadirangerakan perempuan dalam Muhammadiyah merupakan bentuk pembaruanyang menjunjungtinggi dan memuliakan kaum perempuan serta mendorongnya untuk berkiprah di ruang publik guna membawa misi dakwah dan tajdid bagi kemajuan hidup umat manusia.

Tidak dipungkiri bahwa selain ‘Aisyiyah sebagai perempuan Muhammadiyah, juga ada ada organisasi Nasyiatul ‘Aisyiyah, yang pada awalnya sebuah kesadaran ‘Aisyiyah perlu mengembangkan pembinaan ketrampilan dan tambahan pengetahuan terhadap remaja putri,  sehinggadibentuk “Siswo Proyo Wanito” sebagai cikal bakal Nasyiatul ‘Aisyiyah atau sering disebut NA. Sebagaimana dengan makna Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah tunas ‘Aisyiyah, maka sudah menjadi keniscayann nantinya NA adalah sebagai kader penerus perjuangan ‘Aisyiyah.Semangat juang dan militansi berorganisasi perlu ditumbuh-kembangkan dalam diri setiap kader, tak terkecuali dengan kader-kader dari tunas ‘Aisyiyah dalam ortom Muhammadiyah.

Seiring HW didirikan untuk menyiapkan dan membina anak, remaja, dan pemuda yang memiliki aqidah, mental dan fisik, berilmu dan berteknologi serta berakhlak karimah dengan tujuan terwujudnya pribadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa, serta sifatnya terbuka artinya keanggotaan HW terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Apalagi untuk mencapai tujuan HW dilakukan berbagai upaya, diantaranya melalui jalur kepanduan ingin meningkatkan pendidikan angkatan muda putra ataupun putri menurut ajaran Islam, maka anak-anak remaja puteri di NA diperbolehkan mengikuti kepanduan HW, terbukti dengan adanya lagu :

Siap sedia pandu-pandu NA

Riang gembira bersatu hati

Siap sedia beramal berbakti

Janji pandu sejati

Pandu NA kita pandu agama

Pandu islam sopan susila

Teguh niat kita

Giat kerja kita, kejalan utama

Tanpa menunjukkan kesombongan  jika dilihat dari persebaran anggota di Ranting dan Cabang serta pertumbuhan amal usahanya maka bisa dilihat bahwa Muhammadiyah/ ‘Aisyiyah adalah Ormas Islam yang unggul baik dari segi Kualitas, Sumberdaya Manusia,  Sistem Organisasi, serta dari segi kepercayaan publik. Tentu semua prestasi yang diraih Muhammadiyah/‘Asyiyah tersebut layak dibanggakan dan diacungi jempol.Akan tetapi perlu juga dicermati terkadang dengan segudang prestasi dan kebesaran yang dimiliki, jangan sampai membuat para aktivisnya terlena.Seperti halnya kinerja para aktivisnya yang tampak melemah atau stagnan, bahkan cenderung  mengalami penyakit kemalasan dan kemanjaan. Militansinya pun melemah atau mengalami peluruhan dengan kecenderungan hilangnya sikap gigih, kerja keras, cengeng dan mudah patah arang. Selain itu terkadang pula muncul sikap elitis dan kehilangan sikap populis, untuk itupembinaan kaderisasiharus lebih ditingkatkan lebih giat lagi baik melalui jenis dan jenjang perkaderan dimasing-masing ortom AMM khususnya melalui gerakan kepanduan Hizbul Wathan.Diharapkan semua kegiatan perkaderan akan menumbuhkan kader yang semakin berkualitas dan berdaya saing sehingga keberadaanya tidak hanya disiapkan sebagai kader Persyarikatan tetapi juga harus disiapkan sebagai kader Umat dan juga kader Bangsa.

 Perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki untuk berkontribusi memajukan bangsa. Sebenarnya “beban” yang kini dihadapi oleh kaum perempuan amatlah berat. Sebut saja kasus-kasus seperti angka kematian ibu melahirkan atau masalah akses terhadap layanan kesehatan yang baik, angka buta huruf atau keterbelakangan dalam pendidikan, masalah kemiskinan dan kelangkaan lapangan pekerjaan bagi perempuan, sampai dengan masalah kekerasan yang kerapkali menimpa kaum perempuan, baik kekerasan dalam rumah tangga ataupun kekerasan lain di luar rumah.Untuk itu sudah saatnya perempuan hendaknya mengambil peran strategis dalam proses pengambilan keputusan penting. Bung Karno pernah menyampaikan “agar kaum perempuan ikut memastikan arah gerak negara, sehingga kaum perempuan mendapatkan hak dasarnya sebagai manusia yang mulia”.Semangat pidato Bung Karno menyadarkan bahwa keterlibatan perempuan dalam menyuarakan aspirasi untuk kepentingan  perempuan akan lebih mencerminkan suatu kebijakan yang berorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender. Adapun peran strategis yang dapat dijalankan oleh kaum perempuan meliputi: 1) Perempuan hendaknya  mengambil bagian dalam merancang suatu model pembangunan, yang digerakkan oleh suatu tata kelola pemerintahan yang baik dan adil gender.  2) Perempuan ikut berperan dalam mengambil keputusan politik  yang dapat berimplikasi pada kehidupan publik. Keputusan politik tidak meti harus melalui partai politik tetapi dapat melalui perjuangan di masyarakat, misalnya aktif dalam mengikuti musyrenbangdes. 3) aktif berkontribusi memperjuangkan  proses sosial-ekonomi dan produks. Kaum perempuan dapat menjadi penggerak kebangkitan perekonomian nasional yang lebih berkarakter, yakni perekonomian yang berbasis produksi, bukan konsumsi.Keterlibatan perempuan yang sedimikian luas memang harus dikerjasamakan secara baik dan tersistem.Jika itu diperjuangkan oleh perempuan-perempuan yang ada dilingkungan Muhammadiyah seperti ‘Aisyiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah dan HW puteri akan lebih menguatkan perjuangan Muhammadiyah dalam menuju Indonesia yang berkemajuan yakni Indonesia yang berdaulat, Bermartabat dan berkeadilan.

Apabila ditilik dari Undang-Undang HW adalah “Pandu Hizbul Wathan itu siap menolong dan wajib berjasa”, berarti skill kepanduan putri untuk mencerdaskan perempuan sangat dibutuhkan.Diantaranya memiliki kemampuan untuk memobilisasi atau menggerakan masyarakat, paling tidak dengan pendampingan masyarakat.Secara garis besar pendamping masyarakat harus memiliki tiga peran :

  1. Pendamping membantu masyarakat untuk memutuskan/menetapkan tindakan. Pendamping memberika informasi kepada masyarakat, agar masyarakat memiliki pengetahuan dan dapat memilih dan menetapkan tindakan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.
  2. Pendamping mendorong masyarakat untuk mengenali masalah atau kebutuhannya berikut potensinya. Mendorong masyarakat untuk mengenali kondisinya, untuk memulai kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kemampuan masyarakat.
  3. Keahlian.Pendamping dengan ketrampilan khusus yang diperoleh dari lingkup pendidikannya atau dari pengalamannya dapat memberikan keterangan-keterangan teknis yang dibutuhkan oleh masyarakat saat mereka melaksanakan kegiatannya.
  4. Ada tugas penting yang tidak dapat diabaikan adalah keahlian dalam penanaman dan penguatan karakter. Karakter bangsa terbentuk dari berbagai macam interaksi individu dalam masyarakat dalam lingkungan sosial budayanya.Menumbuhkan karakter tidak boleh diserahkan tanggung jawabnya kepada lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan jalur formal semata. Perempuan yang berfungsi sebagai Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak-anaknya justru memiliki peranan lebih besar dalam Menumbuhkan dan menguatkan karakter anak.   Disinilah urgensi memaknai   meningkatkan peran wanita dalam pembentukan karakter

Pasti ketrampilan kemandirian di Kepanduan diajarkan, untuk memposisikan dirinya sebagai pendamping masyarakat khususnya untuk pemberdayaan perempuan.Seperti perempuan diajak menyadari hak-hak kesehatan reproduksinya.Perempuan diajari untuk berani kritis dan memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara yang seharusnya mendapatkan perlindungan hukum, dan hak bantuan pemerintah yang seharusnya menjadi haknya. Disisilain ketrampilan praktis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan. Upaya untuk membangun masyarakat yang berdaya&mandirimelalui:

  1. Penyadaran. Masyarakat diajak untuk bersama memikirkan masa depannya. Masyarakat secara keseluruhan menjadi sadar bahwa mereka mempunyai tujuan-tujuan, mempunyai masalah-masalah, yang harus bersama-sama diurai dan diselesaikan.
  2. Pelatihan. Pelatihan sebagai cara meningkatkan kapasitas pemberdayaan masyarakat. seperti meningkatkan ketrampilan-ketrampilan bertani, menyemangatkan home industri, berternak, berbisnis meski skala kecil,
  3. Pengorganisasian. Bahwa segala hal dikerjakan dengan cara yang teratur, ada pembagian tugas diantara individu-individu yang akan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan tugas masing-masing dan ada kepemimpinan. Setelah mereka diberi ketrampilan perlu diajak kerja bersama, membentuk KBU, KUB, Koperasi.

Kesimpulan :

  1. HW mengalami pasang surut, sejak berdiri 1918-1942 masih eksis sampai masa penjajahan Jepang. Setelah Kemerdekaan pada September tahun 1945 sempat didirikan Pandu Rakyat Indonesia, HW ikut di dalamnya, Konggres Pandu Rakyat Indonesia diselenggarakan di Yogyakarta Januari 1950 memutuskan menerima konsepsi baru yang memberi kesempatan kepada bekas pemimpin pandu untuk menghidupkan kembali organisasinya masing-masing. Untuk melaksanakan amanat Pangsar Jendral Sudirman pada sore hari tanggal 29 Januari 1950 secara simbolis HW mengadakan apel yang dipimpin oleh Bp. Haiban Hadjid untuk meresmikan berdirinya kembali kepanduan Hizbul Wathan, dan pada malam harinya Pangsar TNI Jenderal Sudirman wafat.Akan tetapi terpaksa PP Muhammadiyah mengeluarkan maklumat, 9 Maret 1961 Nomer: 302/IV-a/’61 tentang Peleburan Organisasi Kepanduan, sebagai respon pada Kepres No. 238 tahun 1961  tentang Gerakan Pramuka. Meskipun pada era reformasi angin segar telah membangkitkan kembali HW. Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bandung tahun 2000 diputuskan gerakan kepanduan HW dilahirkan kembali sebagai Ortom Muhammadiyah.Meski deklarinya 18 November 1999
  2. Tugas pemberdayaan perempuan untuk menanggulangi persoalan perempuan dan mencari upaya mengatasi persoalan perempuan, paling tepat dilakukan oleh perempuan sendiri
  3. Untuk mempercepat terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai representasi Islam berkemajuan yang menjadi tujuan Muhammadiyah, harus diperkuat oleh perempuan-perempuan dalam Muhammadiyah.
  4. Ciri khas HW adalah pada metode kepanduan yangberupa pemberdayaan beregu, dialam terbuka, menarik, menyenangkan, menantang dan system satuan serta kegiatan terpisah antara pandu putera dan puteri. Ada peluang untuk saling berfastabikul khairat antara Pandu Putera dan Puteri

Maka sudah saatnya Kepanduan Puteri  Hizbul Wathan,  relevan untuk bangkit. Nasrun minallah wa fathun qarib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *