Peran Pandu HW dalam Melestarikan Budaya Bangka Belitung

0
10
Peringati Milad ke-102 Hizbul Wathan dengan merawat nilai-nilai sejarah. Dok: Kafilah HW Unmuh Babel

HIZBULWATHAN.OR.ID, BANGKA BELITUNG – Hizbul Wathan Qabilah Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) Kafilah Depati Amir terus merawat dan melestarikan budaya lewat kegiatan-kegiatan positifnya yaitu membahas  materi berkaitan sejarah Hizbul Wathan, sejarah-sejarah di Bangka dan sejarah kebudayaan yang ada di Bangka.

Kegiatan  yang diselenggarakan pada Sabtu, (19/12/2020) sekaligus memperingati Milad ke-102 Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dengan mengusung semangat “Peran Pandu dalam Melestarikan Budaya Bangka”.

Ramanda Rifki Hanif, Pelatih Hizbul Wathan di Bangka Belitung dalam paparan meterinya mengatakan sejarah berdirinya Hizbul Wathan tidak terlepas dari peranan KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918, awal berdirinya Hizbul Wathan diberi nama Padvinder Muhammadiyah. Berubah nama menjadi Pecinta Tanah Air sehingga diberi tanama Hizbul Wathan pada tahun 1920.

Hizbul Wathan dalam sejarahnya mengalami duakali peleburan pada tahun 1945. Hizbul Wathan bergabung dengan pandu yang ada di Indonesia dengan nama Pandu Rakyat, Lalu Hizbul Wathan bangkit kembali setelah diperintahkan oleh Panglima Besar Jendral Sudirman, pada tahun 1950, tepatnya pada tgl 20-25 Januari 1950.

Hizbul Wathan meleburkan diri ke duakalinya bergabung dengan pandu yg lain menjadi  Pramuka pada tahun 1961. Ketika Reformasi tahun 1998 PP Muhammadiyah mendatangi Kwarnas Pramuka meminta izin Hizbul Wathan untuk bangkit kembali. Singkatnya Hizbul Wathanpun Bangkit kembali pada tahun 1999 dan SK resmi dari PP Muhammadiyah pada tahun 2000. Sampai sekarang. Maka usia Hizbul Wathan yaitu 102 Tahun.

Sementara materi lainnya adalah Ramanda Alvin Azra Sekretaris Muhammadiyah Disaster Manajemen Centre (MDMC) serta memiliki komunitas yang bernama Jelajah Bangka. sabtu, 19 Desember 2020

Kaitannya dengan sejarah di Bangka dan sejarah kebudayaan yang ada di Bangka. Rakanda Alvin memulai dengan kata Bangka yang berasal dari kata Wangka (Vanca) yang berarti timah karena Bangka merupakan penghasil tambang Timah.

Terbukti di dalam kita pujanga India muncul pertama kali bersama dengan nama “Swarnabhumi” dalam buku sastra India Milindrapantha yang ditulis abad ke 1 SM. Setelah itu menceritakan kebudayaan Bangka yaitu 13 hari bulan purnama di Desa Keritak, Memperingati 1 Muharram di Desa Nyelanding, adat nganggung di Bangka dan banyak lagi kebudayaan Bangka lainnya. Kemudian tidak kalah penting lagi, bahwa di Bangka Belitung memiliki prasasti yang bernama Prasasti Kota Kapur di daerah Mendo Barat, Desa Kota Kapur yang tertancap pada tahun 608 Saka / 686 Masehi.

Sehingga dapat diketahui bahwa kerajaan Sriwijaya pernah ada di Desa Kota Kapur. Prasasti tersebut di tulis menggunakan huruf Pallawa bahasa Melayu. Kemudian ada peserta yang bertanya rasa penasaran Dia mengenai arti kata kampung Dia yang terkenal dengan enaknya belacin atau terasi dari udang yaitu Toboali. Arti kata Toboali ini, makna ini mengisahkan tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho untuk mencari pohon Gaharu yang wanginya luar biasa digunakan untuk sembahyang China, akan tertapi beliau memiliki misi yang lain yaitu mencari saudara tertua ayahnya bernama Bong Chai Lie Pung (Raden Ali).

Seiring berjalannya waktu Laksamana Cheng Ho menemukan Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) yang memiliki pekerjaan sebagai penerima upeti bagi penambang asing yang ada di Bangka bagian selatan, Laksamana Cheng Ho menasehati Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) untuk berhenti menerima upeti itu. Akan tetapi nasehat itu tidak dihiraukan. Kemudian Laksamana Cheng Ho kembali ke Banten untuk menceritkan hal tersebut kepada Raden Kusuma Wijaya karena beliau adalah tempat pertama kali Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) menimba Ilmu Islam di nusantara tepatnya di Banten.

Mendengar cerita tersebut Raden Kusuma Wijaya berkelaihi dengan Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) akan tetapi berkali-kali dibunuh tidak mati Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) karena ia mempelajari ilmu “Rawah Lontek” kemudian Raden Kusuma Wijaya mendapatkan ilham dari Allah, membunuh Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) dengan bagian atas dan bawah tubuhnya harus dipisahkan jadi potongan bagian atas di Palembang dan potongan bagian Bawah di Bangka Bagian selatan. Jadi, nama Toboali (Tobo“tubuh” dan “Ali” (penguasa Bangka di bagian Selatan).

Dari kedua sejarah tersebut tercermin bagwa Pandu HW harus melestarikan budaya dan sekaligus menjalankan Undang-Undang Hizbul Wathan salah satunya Undang-Undang Pandu ke-6 yaitu “Pandu Hizbul Wathan, Menyayangi Semua Makhluk”.

Dengan mempelajari budaya yang ada di daerah dan implementasi Undang-Undang Hizbul Wathan ke-10 “Pandu Hizbul Wathan, Suci Dalam Hati, Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan”, sebagai Makhluk ciptaan Allah, maka kita harus menjauhi pebuatan yang melanggarkan aturan/perintah Allah, seperti kisah Bong Chai Lie Pung (Raden Ali) mengambil upeti dan menggunakan Ilmu “Rawah Lontek”, dimana perbuatan ini di larang Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here