1 Abad HW 2018, Ramanda Harun : “Scout Education – Pendidikan dalam Kepanduan Hizbul Wathan Penguat Karakter dan Kecerdasan Generasi Emas”

Tulisan ini disajikan : Jelang Milad 1 Abad Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dan Sarasehan Kepanduan “Scout Education”, Athfal Competition Indonesia Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan SD/MI ‘Aisyiyah Se-Indonesia Tahun 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang. Muqodimah Mengawali muqodimah ini, mengingatkan bersama-sama sebagai warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk tetap selalu istiqomah bekerja dan memperjuangan cita-cita Muhammadiyah yaitu Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Menegakkan, berarti membuat dan mengupayakan agar Islam dapat tegak, tidak condong bahkan roboh. Menjunjung tinggi, berarti menempatkan Islam di atas segalanya, mengindahkan, serta menghormatinya. Agama Islam, berarti agama Allah SWT yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak zaman Nabi Adam as, Nabi Nuh as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, hingga Nabi Muhmmad SAW sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada manusia sepanjang zaman yang menjamin kesejahteraan hakiki duniawi maupun ukhrawi dan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, berarti masyarakat yang mempunyai kualitas yang baik, yaitu kualitas yang dibina oleh ajaran Islam, masyarakat yang berprikemanusiaan, masyarakat yang mengabdi kepada Allah SWT, masyarakat yang memiliki pertalian dengan Allah dan sesama manusia, masyarakat di mana keutamaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan luas merata dan secara umum dapat digambarkan sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”(1) Mendasari maksud dan tujuan Muhammadiyah tersebut kecerdasan K.H. Ahmad Dahlan teruji dengan kepedulianya pada generasi muda Muhammadiyah yang tertarik dengan Kepanduan kala itu, dengan mendirikan Padvinder Muhammadiyah (1918) kemudian bermetamorfosis menjadi Hizbul Wathan (1920). K.H. Ahmad Dahlan seorang ulama, muballigh, dan pendidik yang memiliki orientasi pemikiran yang jauh ke depan. Beliau memiliki perhatian yang besar terhadap generasi muda dan masa depan masyarakatnya/bangsanya (Q.S. 49 : 18 : “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”). Serta kekhawatiran beliau meninggalkan anak-anak yang lemah terhadap agamanya (Q.S. 4 : 9 : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar). Fikiran dan tindakannya sangat strategis. Melalui Kepanduan, beliau mengambil “metodenya” untuk mendidik anak-anak muda Muhammadiyah di luar sekolah. Melalui HW diharapkan generasi muda Muhammadiyah sanggup serta mampu menghamba kepada Allah, berbuat kebajikan untuk Nusa dan Bangsanya. Mereka harus dibekali dengan keyakinan tauhid, akhlak mulia serta ilmu pengetahuan dan teknologi.(2) Hizbul Wathan dalam perjalanan panjangnya mengalami ujian-ujian berat dari yang ditidurkan ataupun dimatikan yaitu pada masa pemerintah Belanda (1942), pemerintah Jepang (1959) bahkan oleh Pemerintah Indonesia sendiri melalui Keppres Nomor 238 Tahun 1961 untuk meleburkan diri kedalam Gerakan Pramuka. Tetapi pada tahun 1998 melalui Keputusan Tanwir Muhammadiyah di Semarang Hizbul Wathan di bangkitkan kembali. Kemudian di tegaskan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor : 92/SK-PP/VI-B/1.B/1999, tanggal 18 Nopember 1999 M/10 Sya’ban 1420 H tentang Kepanduan Hizbul Wathan Resmi Bangkit Kembali dan disempurnakan dengan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor : 10/KEP/1.0/B/2003, serta Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor : VI/BI.A/58/2000 Tanggal 23 Dzulqodah 1420 H / 28 Pebruari 2000 M tentang pembentukan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di setiap tingkat pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah. Sebuah Pilihan Keputusan kebangkitan Hizbul Wathan oleh Muhammadiyah adalah “sebuah kemauan Muhammadiyah” atau gaya bahasa lainnya adalah “atas perintah Muhammadiyah”. Kemauan yang secara organisasi berdampak luas sampai ke akar rumput persyarikatan Muhammadiyah. Atas perintah tersebut tentunya akan direspon oleh seluruh warga persyarikatan. Bentuk responya bisa beragam, yaitu : sami’na wa atho’na (kami dengar, kami taat), mereka sangat memahami seperti yang tertuang di Surat An-Nuur: 51 : Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan Surat al-Baqarah: 285 “…Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “kami dengar dan kami taát.” Ada juga yang menyatakan sami’na wa ashoina (kami mendengar, tapi tidak menaati) seperti yang tertulis di Surat Al-Baqarah: 93 : “…Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami Mendengar Tetapi Tetapi Tidak Mentaati”. Dan yang terakhir adalah jawaban sami’na wa hum laa yasma’uun (mereka berkata: “kami dengar” padahal mereka tidak mendengarkan) sama apa yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Anfal : 20-21 “Hai orang-orang beriman, taatlah kepad Allah dan RasulNya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang Munafiq yang berkata : “Kami Mendengarkan”, Padahal Mereka Tidak Mendengarkan.” Hingga Allah dengan keras berfirman : “Sesungguhnya binatang (mahluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang tuli” (Surat Al-Anfal : 22). Selanjutnya adalah sebuah pilihan, pilihan yang mana yang akan di ambil ? dan tergolong apa kita atas perintah Muhammadiyah tersebut. Ada apa dengan Hizbul Wathan Melalui Kepanduan Hizbul Wathan diharapkan generasi muda Muhammadiyah sanggup serta mampu menghamba kepada Allah, berbuat kebajikan untuk nusa dan bangsanya. Mereka harus dibekali dengan keyakinan tauhid, akhlak mulia serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembekalan tauhid, akhlaq mulia serta ilmu pengetahuan tersebut di rangkai dalam sistem pendidikan Kepanduan Hizbul Wathan yang memaksimal penguatan karakter dan kecerdasan pandu Hizbul Wathan sebagai peserta didik. Penguatan karakter bagi seorang pandu, adalah sebuah keharusan, kebijakan pemerintah Indonesia dalam Nawacita 8, menegaskan akan melakukan revolusi karakter bangsa dengan melaksanakan gerakan penguatan pendidikan karakter, mengingat pendidikan karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan. Filosofi pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara berupa olah hati (etika), olah pikir (literasi), olah karsa (estetika) dan olah raga (kinestetika) di jadikan pijakan utama untuk mengembangkan kristalisasi nilai utama karakter yang di inginkan pemerintah saat ini yaitu : Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong dan Integritas dengan sebutan Lima Karakter Utama Gerakan Revolusi Mental. Karakter menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.(3) Dilihat dari sudut pengertian, ternyata karakter dan akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dengan kata lain keduanya dapat disebut dengan kebiasaan, dan itulah yang diinginkan oleh KH. Ahmad Dahlan. Selain sisi karakter yaitu sisi kecerdasan, menurut Prof. Dr. Howard Gardner, seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS menjelaskan teori Multiple Intelligences (kecerdasan ganda / majemuk)(7) terdiri : Kecerdasan linguistik, Kecerdasan matematis-logis, Kecerdasan ruang, Kecerdasan kinestetic-badani, Kecerdasan musikal, Kecerdasan interpersonal, Kecerdasan intrapersonal, Kecerdasan lingkungan/Naturalis dan Kecerdasan eksistensial. Dalam Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan sisi kecerdasan dilatih dengan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan jenis kecerdasan yang akan dikembangkan.(4) Kecerdasan ini diolah sedemikian rupa terintegrasi dalam kegiatan latihan rutin Hizbul Wathan, semua menjadi satu dan utuh saling melengkapi dengan tujuan termaksimalkan pribadi pandu Hizbul Wathan yang mampu memikir, melaksanakan dan mempertanggung jawabkan secara maksimal baik dihadapan manusia/pimpinan ataupun Allah SWT. Selanjutnya pendidikan yang dilakukan dalam Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan menjadi sangat khas sifatnya, dalam Bab V Pasal 8 Sifat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, pendidikan dilaksanakan di luar lingkungan keluarga dan sekolah yaitu di alam terbuka, sifat khas lainnya adalah pendidikan ini diperuntukkan anak, remaja dan pemuda yang dilakukan dalam golongan-golongan tertentu berdasarkan usia (Athfal-Pengenal-Penghela-Penuntun) serta bertingkat jenjangnya. Uraian di atas menunjukkan hubungan sangat erat antara karakter, kecerdasan dan pendidikan. Karakter akan menjadi kebiasaan apabila dalam melakukan kegiatan di sertai dengan kecerdasan dalam melaksanakan kegiatan, kegiatan yang dilakukan menggunakan sistem sistem kepanduan. Usaha yang sadar dan terencana ini menumbuhkembangkan potensi masing-masing individu guna membentuk pemikiran dan aktivitas yang menjadi kebiasaan dalam sistem pendidikan yaitu pendidikan sistem kepanduan. Penguatan Karakter Penguatan Karakter sesungguhnya telah dituangkan dalam Undang-undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional di tegaskan bahwa : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Upaya di atas, di dipertajam dengan banyaknya agenda besar oleh Pemerintah Indonesia saat ini, antara lain : Agenda Nawacita No. 8 yaitu : “Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental”; Program Trisakti yaitu : “Mewujudkan Generasi yang Berkepribadian dalam Kebudayaan”; Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 yaitu : “Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran” dan Mempersiapkan Generasi Emas 2045 yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global. Apabila di kompilasi dengan maksud dan tujuan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Bab VI Pasal 20, adalah : menyiapkan dan membina anak, remaja dan pemuda yang memiliki aqidah, fisik dan mental, berilmu dan bertekhnologi serta berakhlaqul karimah sehingga terwujud pribadi muslim yang sebenar-benarnya dan menjadi kader Persyarikatan, umat dan bangsa.(5) Nampak selaras dan sejalan program pemerintah dengan maksud dan tujuan Hizbul Wathan, dalam pelaksanaanya Hizbul Wathan melaksanakan dengan : Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kepanduan bagi anak, remaja dan pemuda Islam, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan kepanduan untuk para pemimpin satuan, pimpinan kwartir dan pelatih, mengembangkan Hizbul Wathan di seluruh Indonesia, mengadakan kerja sama kelembagaan di dalam dan di luar negeri, memupuk dan mengembangkan rasa cinta dan setia kepada Persyarikatan, Tanah Air dan Bangsa, menumbuhkan rasa percaya diri, rasa bertanggung jawab, sikap dan prilaku yang kreatif dan innovatif, disiplin dan istiqomah. Penjaga Karakter Agar karakter, kecerdasan dan sistem pendidikan dalam Kepanduan Hizbul Wathan terjaga terus menerus, setiap anggota Pandu Hizbul Wathan akan di ajak kepada kebajikan, menyuruh dengan baik, dan mencegah kemunkaran (Q.S. 3:104) “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar217; merekalah orang-orang yang beruntung, serta berusaha menjadi yang terbaik (Q.S. 3: 110), “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. Hizbul Wathan akan tetap membuktikan diri dan akan terus memperjuangkan, serta mengembangkan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Para penjaga karakter, kecerdasan dan sistem pendidikan Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan berupa Kode Kehormatan, dalam pelaksanaannya menggunakan Prinsip dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan. Kode kehormatan tertuang dalam janji untuk mengerjakan kewajiban kepada Allah, janji setiap hari berbuat kebaikan, janji menolong siapa saja semampunya dan janji menepati Undang-undang Pandu Hizbul Wathan, undang-undang Negara dan undang-undang tanah air. Kode kehormatan kedua tertuang dalam sebuah undang-undang yaitu : setia dan berbakti pada ayah dan bunda, selalu berani dan teguh hati, selamanya dapat dipercaya, siap menolong dan wajib berjasa, cinta perdamaian dan persaudaraan, sopan santun dan perwira, menyayangi semua mahluk, melaksanakan perintah tanpa membantah, sabar dan bermuka manis, hemat dan cermat dan suci dalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatan. Selain itu, mengutip artikel Ramanda Uun Harun Samsudin, “Peran Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Dalam Pembentukan Karakter Bangsa Indonesia” yang diposting di Website Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan memberikan ilustrasi penjaga karakter yang dibangun di Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan melalui Mars Hizbul Wathan dan Hymne Hizbul Wathan Panduku.(6) Pada Mars Hizbul Wathan peran Hizbul Wathan tertuang pada bait yang I yaitu : Pandu Hizbul Wathan akan selalu memegang amanah, menjunjung agama Islam, meneguhkan hati bagai baja, menjalankan kewajiban dengan sopan dan perwira, siap hidup bermasyarakat dan sedikit bicara perbanyak bekerja. Pada bait yang II yaitu : Pandu Hizbul Wathan itu selalu siap sedia berbuat amal dan jasa dengan ikhlas dan gembira, menjadi pandu perwira Islam putra Indonesia, selalu setia dan dapat dipercaya dalam semua janji dan bakti untuk agama dan bangsa, cepat dan tangkas tingkah terjangnya dan sedikit bicara perbanyak bekerja. Selanjutnya pada bait yang III yaitu : Pandu Hizbul Wathan itu pandu harapan Muhammadiyah, pendukung cita gerak Islam, yang berakhlaq mulia, taqwa dan taat beribadah, selalu teguh dan patuh pada agama Islam, hemat cermat cakap dan jujur dalam perilakunya, selalu ikhlas dari sanjung puja serta selalu tabah, giat dan bersemangat. Ilustrasi penjaga karakter pada lagu hymne Hizbul Wathan Panduku, yaitu : Pandu Hizbul Wathan pembela tanah air kader pemimpin bangsa, semboyannya “Fastabiqul Khairat”, semangatnya pantang surut untuk membina insan berakhlaq mulia, pandu yang beriman teguh dan bertaqwa, berbakti demi nusa dan bangsa untuk kesejahteraan masyarakat, janjinya harus dipenuhi dengan Qurán dan Hadis sebagai pedomannya. Selanjutnya dalam sistem pendidikannya agar karakter, kecerdasan tetap pada jalurnya, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dilaksanakan menggunakan sistem (manhaj) yaitu Prinsip Dasar Kepanduan meliputi : Pengamalan aqidah Islamiyah, Pembentukan dan pembinaan akhlaq mulia menurut ajaran Islam dan Pengamalan kode kehormatan pandu. Sedangkan metode pendidikanya berupa : Pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu, Kegiatan dilakukan di alam terbuka, Pendidikan dengan metode yang menarik, menyenangkan, dan menantang, Penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan, Sistem satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri. Khatimah Sungguh semakin jelas, cara pandang KH. Ahmad Dahlan dalam memperhatikan anak muda Muhammadiyah agar taat beribadah kepada Allah, memiliki kemampuan karakter, kecerdasan yang luar biasa. Sangat tepat pemilihan nama Hizbul Wathan bagi Kepanduan Muhammadiyah yang selalu mendukung gerak cita Muhammadiyah guna mencapai maksud dan tujuan Muhammadiyah sekaligus menghasilkan kemaslahatan dan kemanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia. Sejarah mencatat perjalan Hizbul Wathan mengalami hambatan berkali-kali, tetapi jiwa yang bersumber Al Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah, mampu bangkit begerak berdiri dengan tegaknya. Insya Allah, bersama Hizbul Wathan akan terwujud kader bangsa, kader negara dan kader Muhammadiyah yang amanah bertanggung jawab. Fastabiqul Khairat. =======

(*) Penulis adalah : Ketua Bidang Pengembangan dan Pembinaan Organisasi Kwarpus Hizbul Wathan Periode 2016-2021 dan Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur Periode 2016-2021

Pustaka:

(1)http://www.stikesmuhbojonegoro.ac.id/index.php/main/article/read/16/asas-maksud-dan-tujuan-muhammadiyah (2) http://hizbulwathan.or.id/peran-gerakan-kepanduan-hizbul-wathan-dalam-pembentukan-karakter-bangsa-indonesia/ (3) N.K. Singh dan Mr. A.R. Agwan, Encyclopaedia of the Holy Qur’ân, (New Delhi: balaji Offset, 2000) Edisi I h. 175 (4) Howard Gardner (Drs. Alexandro Sindoro), Kecerdasan Majemuk : Teori dan Praktek (Terjemahan), (Jakarta: Interaksa, 2003) (5) Khoirotil Idawati Mahmud dan Hanifuddin Mahadun, Bedah Otak Cinta dan Kecerdasan,(Mojokerto:Fajar Mojokerto, 2007), hlm. 77 (6) Kwartir Pusat Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, Anggaran Dasar dan Rumah Tanggah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, (Kwarpus, 2016) (7) http://hizbulwathan.or.id/peran-gerakan-kepanduan-hizbul-wathan-dalam-pembentukan-karakter-bangsa-indonesia/ (8) Departemen Agama RI, 1971, Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *