Menyongsong 1 Abad HW 2018: Kwarda HW Ponorogo Mewujudkan Gerakan Moral melalui Jambore Daerah Pandu Pengenal se Eks Karesidenan Madiun

Gerakan Kepanduan (scouting movement) Hizbul Wathan (cinta tanah air) populer disebut Kepanduan Hizbul Wathan (HW). Didirikan pada tahun 1918 Masehi di Yogyakarta. Diseluruh dunia banyak pandu yang dipelopori oleh Baden Powell. Di Indonesia ada 48 organisasi pandu yang tergabung dalam Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) yang akhirnya dibubarkan oleh Presiden Soekarno melalui Keppres No. 238 tahun 1961.

Pandu HW ditiadakan kegiatannya melalui maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggal 15 Maret 1961. Jadi pada waktu itu hanya ada satu pandu yakni Gerakan Pramuka yang ditetapkan pada tanggal 20 Mei 1961.

Di era reformasi ini, Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1999 di Yogyakarta. Untuk itu, dalam mewujudkan gerakan moral yang berdasarkan nilai-nilai kepanduan, Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Ponorogo berinisiatif menyelenggarakan Jambore Daerah Pandu Pengenal dengan tema “Melalui HW kita cetak generasi penerus Bangsa yang islami, kreatif dan kompetitif”.

Jambore Daerah Pandu Pengenal adalah pertemuan Pandu Pengenal yang usia rata-ratanya ada di tingkat SMP/Mts, yang kegiatannya menyenangkan, menantang dan memperkuat tali silaturrahim. Jambore Daerah ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan rasa kekeluargaan dan persaudaraan antar sesama pandu pengenal, serta sebagai wadah latihan bersama, tukar pengalaman, pengetahuan dan keterampilan dan kecakapan pandu yang nantinya akan bermanfaat di masyarakat.

Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 27 – 29 Oktober 2017 dimulai pukul 07.00 di di Lapangan Wates, Desa Wates, Kecamatan Jenangan, Ponorogo ini memiliki kegiatan di alam terbuka sebagai berikut: Baris berbaris, tadabur alam, pionering, TPB, yel-yel, P2HW, snack education, prusiking, IMPK, bakti sosial, cerdas cermat, tartil al-quran, pidato, sepak terong tutup mata, balap karung, terompah, sundul air, pentas seni dan hasta karya.

Ketentuan Peserta:

  1. Setiap SMP/Mts mengirimkan maksimal 2 regu dengan formasi: 1 regu putra dan 1 regu putri, 1 regu berisi 10 siswadan setiap regu didampingi satu orang pembina atau guru.
  2. Anggota didik (sisrwa) masih aktif di sekolah, sehat jasmani rohani, diketahui oleh kepala sekolah/madrasah.
  3. membayar SWP per orang Rp. 10.ooo dan SWO per sekolah Rp 100.000
  4. semua peralatan lomba menjadi tanggungan peserta
  5. setiap regu membawa satu ikat kayu bakar
  6. setiap peserta membawa peralatan sholat, mandi dan pakaian HW dan olah raga
  7. membawa sembako setiap regu 3 kg dan minyak 2 liter
  8. setiap pendamping/guru membayar SWP Rp. 50.000 dan pendamping putra mendampingi regu putra dan pendamping putri mendampingi regu putri

Fasilitas Peserta: MCK, Kavling, Tropi Kontingen, Id card dan Bed. Pembagian kavling sesuai kedatangan peserta, pembagian MCK ditentukan panitia.

Sekretariat: Jalan Jawa No. 38 Mangkujayan, Ponorogo. telpon: 0896.5107.3437

Sumber: Proposal Kegiatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *